Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Perjanjian Dagang RI-AS: Panel Surya Indonesia Kena Tarif 104 Persen

RABU, 25 FEBRUARI 2026 | 09:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Republik Indonesia resmi menyusun draf Agreement on Reciprocal Trade (Perjanjian Perdagangan Timbal Balik) guna memperkuat hubungan ekonomi bilateral. Namun, di balik semangat kerja sama tersebut, dokumen ini mengonfirmasi penerapan tarif impor yang sangat tinggi oleh AS terhadap produk strategis Indonesia, terutama panel surya.

Jika disimak, dalam draft tersebut, barang-barang asal Indonesia harus "berjuang" lebih keras untuk masuk ke pasar Negeri Paman Sam. 

Mengacu pada Schedule 2 Annex I dan Executive Order 14257, produk panel surya asal Indonesia dikenakan tarif total yang sangat signifikan, dengan rincian sebagai berikut:


- Tarif untuk panel surya (solar cells/modules) asal Indonesia mencapai 104,38 persen 
- Angka tersebut merupakan gabungan dari tarif Most Favored Nation (MFN) yang berlaku umum, ditambah dengan tarif tambahan sesuai Executive Order AS untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan.
- Untuk barang-barang asal Indonesia lainnya yang tidak mendapatkan pengecualian khusus, draf menyebutkan bahwa tarif tambahan (ad valorem) ditetapkan maksimal sebesar 19 persen di atas tarif MFN yang berlaku.

Bukan cuma soal panel surya, perjanjian ini juga meminta Indonesia membuka pintu lebih lebar untuk produk-produk dari Amerika. 

Dalam draf tersebut, Indonesia diminta untuk menghilangkan berbagai hambatan, mulai dari mempermudah izin impor produk pertanian hingga memberikan lampu hijau bagi perusahaan teknologi AS. 

Dalam hal pertanian, Indonesia diwajibkan memberikan akses pasar yang diskriminatif atau preferensial bagi produk pertanian AS, termasuk daging sapi, daging babi, dan produk susu dengan sistem kuota (Tariff-Rate Quota).

Menariknya lagi, Indonesia tidak boleh menarik pajak layanan digital untuk perusahaan-perusahaan besar Amerika dan harus menjamin aliran data mereka tetap lancar tanpa aturan yang memberatkan.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga menuntut komitmen Indonesia dalam hal keamanan ekonomi. 

Indonesia diharapkan bisa "satu suara" dengan mereka terkait aturan impor dari negara ketiga yang dianggap mengancam keamanan nasional. Bahkan, Indonesia diminta ikut mengawasi agar tidak ada barang dari negara lain yang "numpang lewat" melalui Indonesia hanya untuk menghindari pajak AS. 

Jika ke depannya Indonesia menjalin kesepakatan dagang dengan negara lain yang dianggap mengganggu kepentingan Amerika, mereka punya hak untuk memutus perjanjian ini secara sepihak.

Perjanjian ini dijadwalkan mulai berlaku 90 hari setelah kedua negara menyelesaikan prosedur hukum domestik masing-masing. Amerika Serikat memegang hak untuk menghentikan perjanjian ini dalam waktu 30 hari jika Indonesia menjalin kesepakatan perdagangan dengan negara lain yang dianggap membahayakan kepentingan inti Amerika Serikat.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Kuota Batu Bara Turun, Laba Bisnis Tambang Astra Tergerus 28 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:33

Denny Indrayana Walk Out dari Sidang Gugatan Ijazah Gibran

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:17

Laba Otomotif Astra Naik 8 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:13

Maroko Kembangkan Pelabuhan Raksasa Berkapasitas 20 Juta Kontainer

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:11

Lewat Program Pelita, AHY Ajak Warga Manfaatkan Energi Surya

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:10

Normalisasi Sungai di Jakarta Dikebut Jelang Musim Hujan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:02

Laba Astra Tergerus 12 Persen, Ini Penyebabnya

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:58

Raja Juli Batal Bahas Karhutla di DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:43

Film Laut Bercerita Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:20

BGN Perluas MBG Prasmanan, Sasar 5.000-10.000 Dapur hingga Akhir Tahun

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:19

Selengkapnya