Berita

Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas. (Instagram/@sasetyaningtyas)

Publika

Dilema Alumni LPDP: Pulang Digaji Rendah, Menjabat Incaran Korupsi

RABU, 25 FEBRUARI 2026 | 03:33 WIB

KALAU Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu ibarat lauk sahur Ramadan, maka alumni-alumninya adalah rendang yang dimasak pakai santan pajak rakyat. 

Berasnya dari keringat pedagang sayur, nelayan, guru honorer, dan lain-lain. Dimarinasi bertahun-tahun di kampus top dunia. 

Harapannya sederhana. Setelah azan Subuh pembangunan berkumandang, mereka turun ke gelanggang. Bukan malah pindah dapur.


Sejak akhir 2025 sampai awal 2026, cerita yang beredar malah bikin sendok jatuh. Fenomena brain drain makin terasa. Tiap tahun ada saja kabar awardee tak kembali atau cuma formalitas pulang. 

Akun X @simply_valll Februari 2026 menyebut pola berulang ini seperti menu sahur yang sama tiap malam. 

Gaji di Indonesia kalah jauh dibanding luar negeri. Di sana dibayar dolar dan poundsterling. Di sini disambut UMK plus kalimat sakral, “Sabar, ini proses.”

Kasus Dwi Sasetyaningtyas viral seperti sambal terasi kebanyakan cabai. Alumni LPDP, bangga anaknya jadi WNA Inggris. 

Netizen panasnya melebihi kompor gas bocor. Dibilang tak tahu balas budi pada negara yang membiayai miliaran rupiah. LPDP menyayangkan. 

Akun X @AldhitamaR bahkan menyebut yang kabur sebagai “brengsek”. Pedas? Jelas. Tapi begitulah suhu warganet kita.

Padahal ada aturan 2N+1, dua tahun studi plus masa pengabdian. Resepnya sudah jelas. Tapi selalu ada yang mencari celah seperti orang pura-pura kenyang agar tak kebagian cuci piring. 

Bahkan ada kasus beasiswa daerah yang penerimanya kabur dan masih dicari. Artinya pengawasan belum seketat tutup panci presto.

Sekarang kita lihat yang pulang. Mereka ini seperti rendang matang sempurna. Tapi, disajikan di meja yang goyang. Banyak lulusan luar negeri kesulitan mendapat pekerjaan sesuai keahlian. 

Gelar kinclong, kampus top dunia, tapi HRD menjawab, “Kami hubungi nanti.” Gaji sering tak sebanding dengan ekspektasi dan biaya hidup. Di luar bisa hidup stabil, di sini hitung harga bawang merah sebelum belanja.

Lalu masuk bab yang bikin sahur tersedak. Ketika mereka menjabat, tuduhan korupsi seperti lalat datang tanpa diundang. Kita tak bisa tutup mata, banyak kasus korupsi melibatkan orang berpendidikan tinggi, termasuk lulusan luar negeri.

Lukas Enembe (almarhum), eks Gubernur Papua lulusan Australia, tersangka dengan harta Rp33 miliar. Karen Agustiawan, mantan Dirut Pertamina, divonis 13 tahun penjara dalam kasus LNG. Bahkan di tubuh PT Pertamina (Persero), pejabat yang ditangkap jaksa dan KPK banyak lulusan luar negeri seperti Amerika, Eropa, Australia. 

Gelarnya panjang seperti daftar menu iftar hotel bintang lima. Tapi ketika kasus tata niaga, pengadaan, atau proyek migas meledak, nama mereka ikut terseret.

Ironisnya begini, wak. Kalau tak pulang, dituduh tak nasionalis. Kalau pulang, digaji rendah. Kalau menjabat dan sistemnya keropos, sedikit saja goyah langsung dituduh korupsi, bahkan sebelum pengadilan bicara. Seperti rendang yang belum tentu basi tapi sudah disangka berulat.

Sebagian awardee pun berpikir pragmatis. “Untuk apa kembali kalau meja makannya penuh risiko?” Logika pahit seperti pare goreng, tapi ada yang menelannya bulat-bulat.

Namun jangan pukul rata. Banyak alumni LPDP pulang, bekerja lurus, mengabdi tanpa sorotan kamera. Mereka tak viral karena tak sensasional.

Solusinya bukan sekadar ceramah nasionalisme sebelum imsak. Negara harus realistis. Perketat pengawasan kontrak, tegas pada pelanggar, dan beri insentif nyata, seperti gaji kompetitif, jalur karier jelas, sistem yang tak mudah menyeret orang ke lumpur. 

Kalau tidak, LPDP bisa berubah jadi paket sahur take away, dibayar rakyat, disantap negeri orang.

So, inilah dilema itu, wak. Pulang digaji rendah. Menjabat dituduh korupsi. Tak pulang dicap pengkhianat. Seperti sahur tanpa lauk, semua serba salah.

Pembaca bingung? Bagus. Karena memang beginilah dapur besar bernama Indonesia. Kadang harum, kadang gosong, kadang rendangnya matang… tapi yang makan justru tetangga. Bahkan, seruput Koptagul pun di tepian Southbank, London.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya