Berita

Tambak udang di Kebumen, Jawa Tengah (Fto: Dok. KKP)

Bisnis

Modeling Tambak Udang Kebumen Kian Moncer, Produksi Naik Tajam pada 2025

SELASA, 24 FEBRUARI 2026 | 10:18 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Modeling Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen yang dikelola Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menunjukkan performa impresif. Memasuki siklus budidaya ketujuh, tren produksi udang vaname di kawasan tersebut kian menguat dari tahun ke tahun.

Data mencatat, pada 2023 total produksi mencapai 200,19 ton. Setahun berikutnya, 2024, produksi tetap terjaga di angka 193,29 ton. Teranyar, produksi melonjak drastis menjadi 358,97 ton. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa sistem budidaya berbasis kawasan semakin efektif, efisien, dan berdaya saing menuju best practices.

Memasuki Februari 2026, KKP melalui BBPBAP Jepara kembali melakukan penebaran benur udang vaname, menandai dimulainya siklus ketujuh budidaya.


Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu atau yang akrab disapa Tebe menjelaskan, untuk menjamin kesinambungan produksi melalui efisiensi dan efektivitas, KKP melakukan perubahan pengelolaan BUBK Kebumen dari BLUPPB Karawang ke BBPBAP Jepara.

Perubahan tersebut tak lepas dari penambahan tugas baru BLUPPB Karawang dalam mengelola Modeling Budi Daya Ikan Nila Salin yang sebelumnya seluas 84 hektare menjadi total 314 hektare sejak Agustus 2025. Dengan pengelola baru, diharapkan capaian BUBK Kebumen terus terjaga bahkan meningkat.

“Transisi pengelolaan tersebut berjalan baik dan tidak menghentikan aktivitas produksi. Justru saat ini operasional tambak terus diperkuat agar semakin optimal,” tegas Tebe kepada wartawan, Selasa, 24 Februari 2026.

Tak hanya dari sisi kuantitas, kualitas produksi juga menjadi perhatian. Tebe menegaskan, udang yang dihasilkan BUBK Kebumen dipastikan bebas residu antibiotik karena seluruh proses budidaya menerapkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) secara ketat.

“Dengan penerapan CBIB sesuai standar, kami optimistis produksi dan produktivitas BUBK Kebumen akan terus meningkat dari waktu ke waktu hingga mencapai produksi optimal,” tambahnya.

Ia pun mengajak para pelaku usaha perikanan untuk konsisten menerapkan prinsip CBIB sebagaimana yang dijalankan di BUBK Kebumen. Menurutnya, standar tersebut tak hanya menjaga kualitas dan daya saing produk, tetapi juga memperkuat posisi udang Indonesia di pasar domestik maupun ekspor.

“Dengan operasional yang terus berjalan dan siklus produksi yang berlanjut, BUBK Kebumen membuktikan bahwa modeling ini mampu menjadi model pengembangan udang nasional yang berkelanjutan, sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas untuk datang melihat dan belajar langsung”, ungkap Tebe.

Secara kawasan, BUBK Kebumen mengelola lahan tambak sekitar 65 hektare, dengan 23,5 hektare merupakan lahan produksi aktif yang terbagi dalam 16 klaster. Pada 2026 ini, tambak resmi memasuki siklus budidaya ketujuh.

Kontribusi ekonomi yang dihasilkan pun signifikan. Sejak awal beroperasi, BUBK Kebumen berkontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kebumen melalui pembayaran retribusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Perikanan Budidaya. Pada 2024 kontribusi tercatat sebesar Rp 259.087.652,- dan pada 2025 melonjak menjadi Rp 489.264.736,-.

Tak berhenti di situ, BUBK Kebumen juga menyerap 142 tenaga kerja tetap lokal dari desa sekitar, serta lebih dari 100 tenaga harian lepas. Dampak berganda (multiplier effect) pun terasa, mulai dari tumbuhnya warung sembako, toko sarana prasarana tambak, rumah makan hingga meningkatnya okupansi penginapan.

Capaian tersebut selaras dengan pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, yang menyebut pembangunan modeling BUBK Kebumen merupakan bagian dari implementasi program ekonomi biru KKP sebagai percontohan budidaya udang berorientasi pada keseimbangan ekologi, ekonomi, dan sosial.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya