Berita

Lukisan kuda api karya Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. (Foto: Istimewa)

Publika

Lukisan SBY: Low Tuck Kwong dan Ironi Negeri Kaya dengan Mayoritas Rakyat Jelata

SENIN, 23 FEBRUARI 2026 | 06:46 WIB

HINGGA saat ini, warganet masih riuh membincangkan lukisan Susilo Bambang Yudoyono (SBY), yang laku dilego dalam lelang amal dengan harga fantastis: Rp6,5 miliar. 

Pemenang lelangnya adalah Low Tuck Kwong, Raja Batubara pendiri PT Bayan Resources Tbk, yang merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia.

Kekayaan bersih Low yang berfluktuasi di kisaran 27,9 miliar dolar AS (sekitar Rp 344 triliun hingga Rp457 triliun) per awal 2026. 


Bagi Low, nilai harga lukisan SBY dibandingkan dengan jumlah kekayaannya, hanya Rp2.000 bagi masyarakat awam. 

Bisa dikatakan, jika dibandingkan dengan rakyat kebanyakan, nilai lukisan SBY itu ibarat uang parkir di Indomaret atau Alfamaret, cuma kisaran Rp2000.

Kenapa demikian?

Low membayar Rp6,5 miliar dengan kekayaan miliknya yang mencapai Rp344 triliun hingga Rp457 triliun. Jadi, jika rakyat kebanyakan yang penghasilannya hanya UMR (kisaran 4-5 juta/bulan), ya nilai lukisan SBY itu tak lebih mahal dari uang parkir senilai Rp2.000.

Kondisi itu menggambarkan betapa timpangnya penguasaan harta di negeri ini. Kekayaan di negeri ini, yang semestinya menjadikan seluruh rakyatnya sejahtera, ternyata tidak demikian. Mayoritas rakyat justru mengalami nestapa.

Sampai-sampai, ada seorang anak SD yang harus bunuh diri karena tak bisa beli pensil dan buku. Bukan karena tak bisa beli lukisan kuda api milik SBY.

Anomali ini berangkat dari tidak adilnya sistem distribusi harta di negeri ini. Adopsi atas sistem kapitalisme dengan ide kebebasan kepemilikan (Free Ownership), menjadikan orang yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Semestinya, harus diterapkan sistem ekonomi yang mendistribusikan harta di tengah manusia secara adil. 

Itulah sistem ekonomi Islam yang telah membagi kepemilikan menjadi tiga: 1. Kepemilikan Individu (Al Milkiyatul Fardiyah), 2. Kepemilikan Umum (Al Milkiyatul Ammah) dan 3. Kepemilikan Negara (Al Milkiyatul Daulah).

Harta yang dikuasai Low berupa tambang batubara terkategori milik umum. Menurut syariat Islam, haram bagi individu, swasta maupun koprasi (asing maupun aseng) menguasai tambang batubara. 

Semestinya, tambang batubara dikelola oleh negara selaku wakil umum, selanjutnya manfaatnya dikembalikan kepada rakyat. 

Problemnya, negara mengadopsi hukum sekuler dari ideologi kapitalisme. Negara justru memfasilitasi tambang-tambang dikuasai swasta hingga asing dan aseng. 

Sementara, untuk mengelola pemerintahan dan pelayanan publik, negara malah membebani rakyat dengan pungutan pajak.

Batubara, emas, gas alam, nikel, minyak, dan berbagai tambang-tambang melimpah lainnya, menurut sistem ekonomi Islam haram diserahkan pada swasta. Negara wajib mengelola dan mengembalikan seluruh manfaatnya kepada rakyat. 

Kembali ke soal lukisan SBY, bagi Low Tuck Kwong, lukisan itu tak mahal. Hanya setara uang parkir bagi rakyat kebanyakan. Karena Low kaya raya dari tambang batubara, yang semestinya kekayaan itu dimiliki oleh rakyat. 

Hari ini, kita begitu mudah terkesima dengan jargon filantropi dengan dalih lelang amal melalui pembelian lukisan dengan harga fantastis. 

Lalu, tidakkah kita rindu sistem Islam diterapkan di negeri ini, yang dengan penerapan Islam akan membagikan harta secara adil kepada seluruh manusia?

Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik 

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya