Berita

Pejabat militer dan ulama Iran mengunjungi bangsal rumah sakit, berbicara dengan staf medis (Foto: Iran International)

Dunia

Komandan IRGC Diisukan Gelar Rapat di Rumah Sakit

MINGGU, 22 FEBRUARI 2026 | 15:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Sejumlah personel Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) diisukan menggelar pertemuan di dalam rumah sakit dalam beberapa hari terakhir. 

Seorang pegawai rumah sakit di Teheran, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan, menyebut sejumlah komandan dan personel IRGC datang bersama tim pengamanan dan mengadakan sesi diskusi yang tidak berkaitan dengan pelayanan kesehatan. 

“Kehadiran individu-individu ini, beserta unit pengawal mereka, telah membuat staf khawatir karena pertemuan-pertemuan tersebut tidak ada hubungannya dengan masalah medis,” ujarnya kepada Iran International, seperti dikutip Minggu, 22 Februari 2026. 


Laporan muncul di tengah tudingan lama bahwa aparat keamanan memanfaatkan institusi publik saat gelombang protes 8 dan 9 Januari lalu. 

Sejumlah saksi dan media lokal kala itu melaporkan adanya tembakan dari dalam gedung pemerintahan dan dari atap rumah sakit di Gorgan, serta penggunaan sekolah di beberapa kota untuk menempatkan pasukan dan menahan demonstran.

Analis politik Jamshid Barzegar menilai pola tersebut bukan hal baru dalam praktik keamanan Iran. Menurutnya pemindahan fungsi komando ke risiko medis berisiko besar bagi warga sipil.

“Ketika para komandan memasuki rumah sakit dengan tim perlindungan dan mengadakan pertemuan non-medis, mereka secara efektif menyandera pasien dan staf medis demi pertimbangan keamanan mereka sendiri,” tegasnya.

Pengacara hak asasi manusia Hossein Raisi juga mengingatkan potensi pelanggaran hukum internasional.

“Pihak mana pun yang dengan sengaja mengubah situs sipil menjadi pusat aktivitas militer selama konflik bersenjata merupakan kejahatan perang,” ujarnya. 

Raisi menekankan bahwa hukum humaniter internasional mewajibkan semua pihak meminimalkan dampak terhadap warga sipil.

“Jika korban jiwa terjadi karena warga sipil sengaja terkena risiko, tanggung jawab dapat dibebankan pada mereka yang menciptakan situasi tersebut serta pada mereka yang melancarkan serangan yang melanggar hukum," paparnya.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya