Berita

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (Foto: Reuters)

Dunia

Pasukan Elite Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

MINGGU, 22 FEBRUARI 2026 | 09:29 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pasukan keamanan dan penasihat medis Kuba dilaporkan mulai meninggalkan Venezuela ketika pemerintahan interim Presiden Delcy Rodríguez menghadapi tekanan kuat dari Washington untuk mengurai aliansi kiri paling berpengaruh di Amerika Latin. 

Sebanyak 11 sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebut arus kepulangan personel Kuba terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Rodríguez kini disebut mempercayakan pengamanan pribadinya kepada pengawal Venezuela, berbeda dengan presiden terguling Nicolás Maduro dan pendahulunya, mendiang Hugo Chávez, yang mengandalkan pasukan elite Kuba. 


Sebanyak 32 warga Kuba dilaporkan tewas dalam serangan militer AS pada 3 Januari yang berujung pada penangkapan Maduro. 

Mereka merupakan bagian dari perjanjian keamanan mendalam sejak akhir 2000-an yang menempatkan agen intelijen Kuba di militer Venezuela serta unit kontraintelijen DGCIM.

Peran Kuba dalam menopang kekuasaan Chavista dinilai sangat krusial. 

“Pengaruh Kuba sangat penting bagi kelangsungan pemerintahan Chavista," kata Alejandro Velasco, profesor sejarah di New York University dan pakar Venezuela, seperti dikutip dari Reuters, Minggu, 22 Februari 2026. 

Di dalam DGCIM, sejumlah penasihat Kuba dilaporkan telah dicopot, sementara sebagian tenaga medis dan penasihat keamanan telah terbang kembali ke Havana.

Salah satu sumber dekat partai berkuasa Venezuela menyebut kepulangan warga Kuba dilakukan atas perintah Rodríguez akibat tekanan AS. 

Namun sumber lain belum memastikan apakah mereka dipaksa pergi oleh kepemimpinan baru Venezuela, pulang atas kehendak sendiri, atau dipanggil pemerintah Havana. 

Keputusan menyingkirkan personel Kuba dari pengawal presiden dan unit kontraintelijen ini sebelumnya belum pernah dilaporkan.

Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan ingin mengakhiri hubungan keamanan Venezuela-Kuba. 

"Selama bertahun-tahun, Kuba hidup dari sejumlah besar MINYAK dan UANG dari Venezuela. Sebagai imbalannya, Kuba menyediakan 'Layanan Keamanan' untuk dua diktator Venezuela terakhir, TETAPI TIDAK LAGI!" tulis Trump dalam Unggahan di Truth Social.

Meski kehadiran Kuba disebut menyusut, sejumlah penasihat militer masih bekerja di Venezuela dan profesor Kuba tetap mengajar di universitas kepolisian UNES. 

Pengamat menilai Rodríguez tengah berhitung cermat menjaga jarak tanpa sepenuhnya memutus hubungan. 

“Dia ingin menjaga jarak dengan Kuba sampai situasi ini tenang, sampai kekuasaannya jelas, tetapi juga tidak sepenuhnya mengorbankan mereka,” ujar Frank Mora, Frank Mora, duta besar AS untuk Organisasi Negara-Negara Amerika di bawah pemerintahan Biden.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Koperasi Berbasis Masjid Diharap Bangkitkan Ekonomi Lokal

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:02

Ramadan Momentum Menguatkan Solidaritas Sosial

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:44

Gerebek Rokok Ilegal Tanpa Tersangka, PB HMI Minta Dirjen Bea Cukai Dievaluasi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:21

Mudik Arah Timur, Wakapolri: Ada Peningkatan Volume Kendaraan Tapi Lancar

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:08

Rencana Libatkan TNI Berantas Terorisme Kaburkan Fungsi Keamanan dan Pertahanan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:46

Purbaya: Ramalan Ekonomi RI Hancur di TikTok dan YouTube Tak Lihat Data

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:21

KPK Tetapkan 2 Tersangka OTT di Cilacap

Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:58

Komisi III DPR Minta Negara Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38

AS Pastikan Harga Minyak Dunia Tak akan Tembus 200 Dolar per Barel

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:55

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:43

Selengkapnya