Berita

Koordinator Tim Riset Cenago, Heri Andreas. (Foto: Istimewa)

Politik

Kajian Cenago ITB:

Banjir Sumatera Dipicu Cuaca Ekstrem Lampaui Standar Mitigasi

SABTU, 21 FEBRUARI 2026 | 17:54 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Kejadian bencana banjir di Sumatera dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar. Sehingga, kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut.

Begitu laporan Center for Analysis and Applying Geospatial Information (Cenago) Institut Teknologi Bandung (ITB) saat mengumumkan hasil kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru), perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika. 

Cenago menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya pendalaman berbasis data dan analisis komprehensif dalam menarik kesimpulan mengenai faktor penyebab serta pertanggungjawaban suatu bencana. 


Koordinator Tim Riset Cenago, Heri Andreas mengatakan bahwa hasil riset menunjukkan kontribusi perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS yang dianalisis relatif kecil dibandingkan dengan skala faktor cuaca ekstrem yang terjadi. 

Heri menguraikan, analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan porsi alih fungsi lahan tiga korporasi terhadap luas DAS relatif kecil. PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE 0,02 persen. 

“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” kata Heri dalam keterangan tertulis, Sabtu 21 Februari 2026.

Tidak hanya mengandalkan identifikasi dan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan, kata Heri, Cenago juga menggabungkan data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi hidrolika. 

Heri mengungkapkan hasil analisis Cenago terhadap citra satelit resolusi tinggi menunjukkan banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi. 

Curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).

"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," bebernya.

Dengan intensitas hujan yang melampaui standar mitigasi nasional itu, masih kata Heri, Cenago menilai bencana tersebut berada pada tingkat yang secara perencanaan melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku.

Cenago juga melakukan simulasi banjir model hidrologi dan hidrolika dengan berbagai skenario, termasuk skenario seluruh wilayah DAS berupa hutan dan skenario keberadaan tambang dan lain-lain. 

Hasil simulasi menunjukkan PT AR tercatat hanya berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir atau penambahan runoff (air hujan yang tidak meresap ke tanah) sebesar 0,71 persen. Adapun, PT NSHE tercatat hanya 0,05 persen dan 0,01 persen, serta PT TBS berkontribusi terhadap banjir 1,7 persen atau penambahan runoff sekitar 0,06 persen.

Cenago menegaskan pentingnya pemanfaatan data geospasial berketelitian tinggi dalam pengambilan keputusan kebencanaan. 

Heri menekankan, pendekatan berbasis sains dinilai krusial untuk memastikan setiap kesimpulan mengenai penyebab bencana disusun secara objektif, terukur, dan proporsional, termasuk dalam melakukan forensik bencana banjir.

“Masih ada pekerjaan rumah sangat besar, yaitu penggunaan data dan informasi, seperti data geoscience, bagi penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya