Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Defisit AS Tembus Rekor Tertinggi, Kebijakan Tarif Trump Gagal?

JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 14:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Defisit perdagangan Amerika Serikat melonjak tajam pada Desember 2025 akibat kenaikan impor, terutama produk teknologi seperti chip komputer. 

Sepanjang 2025, defisit bahkan mencatat rekor tertinggi, meski Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan berbagai tarif impor.

Data Departemen Perdagangan AS yang dirilis Kamis, 19 Februari 2026, menunjukkan defisit naik 32,6 persen menjadi 70,3 miliar Dolar AS. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir dan jauh melampaui perkiraan ekonom sebesar 55,5 miliar Dolar AS.


Kenaikan defisit dipicu oleh impor yang meningkat 3,6 persen menjadi 357,6 miliar Dolar AS. Impor barang modal, seperti aksesori komputer dan peralatan telekomunikasi, melonjak seiring pembangunan pusat data untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI).

“Peningkatan impor komputer khususnya seharusnya berkorelasi dengan investasi peralatan bisnis yang lebih kuat dan dapat tetap kuat karena permintaan terkait AI,” ujar Ekonom Citigroup, Veronica Clark, dikutip dari Al Jazeera, Jumat, 20 Februari 2026.

Sementara itu, impor barang konsumsi justru turun, terutama pada produk farmasi.

Di sisi lain, ekspor AS turun 1,7 persen menjadi 287,3 miliar Dolar AS pada Desember, meski ekspor semikonduktor dan sejumlah barang konsumsi mencatat kenaikan. Sepanjang 2025, ekspor tumbuh 6 persen, sedangkan impor naik hampir 5 persen.

Secara tahunan, defisit perdagangan barang AS pada 2025 meningkat 2 persen menjadi 1,24 triliun Dolar AS, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. 

Defisit dengan China turun hampir 32 persen menjadi 202 miliar Dolar AS, namun arus perdagangan beralih ke negara lain. Defisit dengan Taiwan melonjak dua kali lipat menjadi 147 miliar Dolar AS, sementara dengan Vietnam naik 44 persen menjadi 178 miliar Dolar AS.

Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, berbagai tarif telah diterapkan untuk menekan ketimpangan perdagangan. Namun, hasilnya belum terlihat signifikan. Lapangan kerja manufaktur justru berkurang 83.000 posisi dalam setahun terakhir.

Meski defisit melebar, kuatnya impor juga mencerminkan tingginya investasi dan aktivitas bisnis, terutama di sektor teknologi dan AI. Namun secara keseluruhan, sektor perdagangan diperkirakan hanya memberi sedikit, atau bahkan tidak memberi kontribusi, terhadap pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV 2025.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya