Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Harga Minyak Dunia Naik Setelah Trump Ultimatum Iran

JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 11:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden Donald Trump memberikan batas waktu kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.

Dikutip dari Reuters, pada pembukaan perdagangan Jumat 20 Februari 2026, harga minyak Brent naik 21 sen atau 0,3 persen menjadi 71,87 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 23 sen atau 0,4 persen ke level 66,66 Dolar AS per barel. 

Kenaikan ini dipicu pernyataan Trump yang memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika Iran tidak menyetujui kesepakatan mengenai program nuklirnya dalam 10 hingga 15 hari ke depan. Iran selama ini menyatakan program nuklirnya bertujuan damai, namun Washington menilai program tersebut memiliki unsur militer.


Di sisi lain, Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Langkah itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Iran sempat menutup sementara Selat Hormuz untuk kepentingan latihan militer.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut. Jika konflik pecah di kawasan itu, pasokan minyak ke pasar global bisa terganggu dan mendorong harga naik lebih tinggi.

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga ditopang oleh penurunan stok dan ekspor dari negara-negara produsen utama. Data dari Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 9 juta barel, seiring meningkatnya aktivitas kilang dan ekspor.

Sementara itu, ekspor minyak Arab Saudi turun menjadi 6,988 juta barel per hari pada Desember, level terendah sejak September, menurut data Joint Organizations Data Initiative.

Dari sisi ekonomi global, inflasi inti tahunan Jepang pada Januari tercatat 2,0 persen, terendah dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini berpotensi menahan rencana bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga. 

Suku bunga rendah di negara pengimpor minyak seperti Jepang umumnya mendukung permintaan energi dan menjadi sentimen positif bagi harga minyak.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya