Berita

Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi (Foto: Dokumen Nasdem DPR RI)

Politik

Pelabuhan Tambang Rp60 Triliun di Sumbawa Dinilai Kurang Diawasi DPR

JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 10:53 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Fasilitas strategis yang menopang tambang emas dan tembaga perlu diawasi lebih ketat karena menyangkut potensi penerimaan negara.

Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, menyoroti lemahnya pengawasan terhadap pelabuhan khusus milik PT Amman Mineral Internasional di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Newmont Nusa Tenggara ini merupakan salah satu tambang terbesar di Indonesia dan bahkan membangun smelter sendiri di lokasi operasionalnya.


"Di Kabupaten Sumbawa Barat ada tambang yang dulu namanya PT Newmont, sekarang PT Amman Mineral. Itu termasuk tambang emas terbesar di Indonesia. Saking besarnya, mereka sampai membangun smelter sendiri di lokasi," ujar Mori dalam keterangan tertulis, Jumat, 20 Februari 2026.

Sorotan utama diarahkan pada Pelabuhan Benete, yang mendukung operasional tambang dan terbagi menjadi pelabuhan reguler serta pelabuhan khusus. Mori mengaku tidak dapat mengakses pelabuhan khusus saat melakukan kunjungan kerja.

"Waktu saya ke sana, saya tidak bisa masuk ke pelabuhan khusus. Padahal di situ ada bea cukai, karantina, dan instansi lainnya. Pertanyaan saya, di mana pengawasan kita?" katanya.

Menurut Mori, izin pelabuhan khusus berada di bawah kewenangan Kementerian Perhubungan, sementara operasional dan keselamatan pelayaran diawasi oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan.

Ia juga mengingatkan bahwa dengan omzet perusahaan yang disebut mencapai sekitar Rp60 triliun per tahun dan aktivitas ekspor-impor bernilai besar, sistem pengawasan harus dipastikan berjalan optimal.

Mori meminta Menteri Perhubungan memberi perhatian khusus terhadap regulasi dan mekanisme pengawasan pelabuhan strategis tersebut. Ia menegaskan, isu ini bukan sekadar dugaan pelanggaran, melainkan langkah antisipatif untuk menjaga kepentingan negara dari potensi kebocoran penerimaan di sektor pertambangan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya