Berita

Ilustrasi (RMOL/Alifia Dwi)

Publika

Sinyal Risiko Fiskal, Apakah Pasar Gelisah?

JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 10:49 WIB | OLEH: PERDANA WAHYU SANTOSA*

DI kanal Tempodotco di YouTube, Siniar Jelasin Dong!, telah mengangkat satu frasa kritis yang belakangan bisa bikin pelaku pasar mengernyitkan dahi: “Sinyal Masalah Tata Kelola Fiskal Pemerintah”-episode berdurasi hampir setengah jam tersebut, dengan penekanan utama bahwa “peringatan” soal fiskal tidak datang sekali, melainkan berulang. 

Yang menarik adalah bahwa dari siniar tersebut terjadi ketika ekonomi Indonesia secara angka masih tampak “waras”. BPS mencatat pertumbuhan 2025 sebesar 5,11% (lebih tinggi dari 2024). Inflasi juga bergerak naik di awal 2026, tetapi Bank Indonesia menegaskan target inflasi 2026-2027 tetap 2,5% ±1%. Jadi, kalau ekonomi fondasinya relatif kokoh, kenapa pasar bisa gelisah? Jawabannya: pasar bukan cuma menilai angka statistika belaka, tapi cara negara mengelola dan mengomunikasikan angka itu.

Masalahnya pokoknya apa?



Moody’s mempertahankan peringkat Baa2 (investment grade), tetapi menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan alasan yang sangat “pasar-sentris”: berkurangnya prediktabilitas perumusan kebijakan dan sinyal pelemahan tata kelola. Artinya bukan tiba-tiba ekonomi ambruk; yang dipersoalkan adalah risiko proses-apakah kebijakan konsisten, apakah institusi kuat, apakah koordinasi rapi.

Sesudah keputusan itu, Reuters melaporkan tekanan lanjutan di pasar-IHSG melemah, rupiah tertekan-dan narasi yang menguat adalah kekhawatiran atas disiplin fiskal serta persepsi independensi kebijakan ekonomi. Bersamaan, penyedia indeks juga ikut mengingatkan soal isu transparansi dan “investability” pasar saham; FTSE Russell bahkan menunda review Indonesia. Kombinasi ini menciptakan satu hal yang dibenci investor: ketidakpastian berlapis.

Pemerintah menyatakan program-program prioritas-termasuk makan gratis-tetap dijaga dalam batas defisit maksimal 3% PDB. Tetapi pasar akan bertanya lebih rinci lagi: bagaimana pembiayaannya, apa trade-off-nya, dan seberapa transparan asumsi fiskalnya? Apalagi, untuk 2026, Reuters juga melaporkan defisit anggaran diproyeksikan sekitar 2,68% PDB dalam pembahasan anggaran. “Masih aman” secara angka, tetapi tetap butuh kredibilitas eksekusi.

Di level struktur, utang pemerintah Indonesia-sekitar 39,86% PDB per Juni 2025-masih tergolong moderat. Namun, pasar biasanya lebih cerewet pada dua hal, yaitu: (i) elastisitas penerimaan (tax ratio dan kepatuhan) dan (ii) kualitas belanja (apakah produktif atau sekadar politis). Jika ada institusi/vehicle baru yang ikut mengelola proyek besar, standar governance-nya harus lebih tinggi, bukan setara dengan rata-rata.

Sebaiknya apa yang dilakukan pemerintah?


Moody’s menyoroti prediktabilitas kebijakan; maka respons paling cepat dan cerdas adalah memperlakukan prediktabilitas sebagai aset ekonomi. Caranya: rilis kerangka fiskal menengah (MTFF) yang disiplin, dengan asumsi terbuka, stress test (harga komoditas, nilai tukar, suku bunga), dan pembaruan berkala-bukan sekadar pidato optimistis.

Untuk program belanja besar, sebaiknya segera publikasikan unit cost, target penerima, mekanisme pengadaan, dan indikator outcome. “Di bawah 3% defisit” itu slogan; pasar perlu buku kerjanya. Bahkan inflasi pun sudah punya target eksplisit 2,5% ±1%; fiskal seharusnya punya disiplin komunikasi yang setara. 

Jika penerimaan melemah, negara cenderung memilih dua jalan buruk: menaikkan beban secara mendadak atau memotong belanja produktif diam-diam. Jalan ketiganya adalah reformasi administrasi yang konsisten: perluasan basis, penegakan berbasis data, dan kepastian aturan-supaya penerimaan naik tanpa membuat iklim usaha seperti uji nyali.

Kalau ada dana/vehicle strategis untuk investasi nasional, standar tata kelolanya harus memenuhi ekspektasi investor global: mandat jelas, pelaporan berkala, pengawasan independen, dan manajemen konflik kepentingan. Karena pasar tidak menghukum mimpi; pasar menghukum mimpi yang tidak punya pagar.
Penutup

Pemberitaan ekonomi yang agak suram tersebut, sengaja atau tidak, jelas menegaskan satu pelajaran ekonomi yang jarang ditulis di buku teks: kepercayaan adalah variabel makro. Keraguan pasar  muncul saat pertumbuhan 2025 masih 5,11% dan inflasi punya koridor target yang terang. Artinya, pekerjaan rumah kita bukan membangun fondasi dari nol, melainkan menjaga fondasi agar tidak retak oleh cara mengelola kebijakan.

Pasar boleh saja panik sebentar. Negara tentunya tidak perlu ikut panik. Yang perlu adalah: disiplin, transparansi, dan komunikasi yang bisa diverifikasi. Pada akhirnya, premi risiko itu bukan kutukan-ia hanya kuitansi dari ketidakpastian.


Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya