Berita

Ilustrasi/Unsplash.

Nusantara

Bukan Sekadar Tanda di Dahi, Ini Makna Mendalam di Balik Tradisi Rabu Abu Bagi Umat Katolik

RABU, 18 FEBRUARI 2026 | 09:08 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

 Pernahkah Anda melihat kerabat atau rekan kerja datang ke kantor dengan tanda salib berwarna hitam di dahi pada hari Rabu tertentu? Jangan buru-buru menyuruh mereka menghapusnya karena mengira itu kotoran. Itu adalah tanda peringatan Rabu Abu (Ash Wednesday).

Bagi umat Katolik dan sebagian gereja Protestan, hari ini bukan sekadar ritual tahunan. Ada makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan, kematian, dan pertobatan di balik debu tersebut.

Berikut adalah serba-serbi Rabu Abu yang perlu Anda ketahui, dirangkum dari berbagai sumber.


1. Gerbang Menuju Prapaskah

Secara liturgi, Rabu Abu menandai hari pertama masa Prapaskah. Ini adalah masa persiapan rohani yang berlangsung selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) sebelum Hari Raya Paskah atau kebangkitan Yesus.

Angka 40 ini bukan sembarang angka. Dalam tradisi iman Kristiani, ini merujuk pada "masa 40 hari pelatihan spiritual" yang telah dimulai sejak awal abad ke-4 di gereja-gereja Kristen Barat. Tujuannya jelas: mengajak umat untuk menengok ke dalam diri, mengakui kesalahan, dan memperbarui iman.

2. Dari Mana Abunya Berasal?

Mungkin banyak yang bertanya, abu jenis apa yang dioleskan ke dahi? Apakah sembarang abu dapur? Ternyata tidak.

Abu yang digunakan dalam misa Rabu Abu berasal dari daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Daun-daun yang sudah kering itu dibakar hingga menjadi abu. Secara simbolis, ini mengajarkan siklus kehidupan; daun yang dulunya dilambai-lambaikan sebagai tanda kemenangan, kini menjadi abu tanda kerendahan hati.

3. "Ingatlah, Kamu Adalah Debu"

Momen paling ikonik dari Rabu Abu adalah saat Imam atau Pendeta mengoleskan abu membentuk tanda salib di kening umat. Saat prosesi ini, kalimat yang diucapkan sangat menohok: "Ingatlah bahwa kamu adalah debu, dan kamu akan kembali menjadi debu".

Kalimat ini adalah pengingat keras akan mortalitas atau kefanaan manusia. Abu melambangkan bahwa tubuh fisik kita hanyalah debu yang diciptakan Tuhan dan kelak akan kembali menyatu dengan tanah.

Selain itu, abu juga merupakan simbol kesedihan dan penyesalan. Maksud "kesedihan" di sini adalah duka spiritual karena manusia menyadari telah berbuat dosa yang menyebabkan jarak (perpecahan) hubungan dengan Sang Pencipta.

4. Tradisi Lintas Denominasi

Meski sangat identik dengan Gereja Katolik, Rabu Abu sejatinya adalah tradisi iman yang dimiliki bersama. Gereja-gereja Reformasi atau Protestan seperti GKJ (Gereja Kristen Jawa), Lutheran, Anglican, hingga Methodist juga menjalankan tradisi ini.

Bahkan di kalangan Protestan, Rabu Abu dipandang sebagai momen refleksi-introspeksi yang penting untuk merenungkan hal-hal apa saja yang perlu diubah demi menjadi pribadi yang lebih baik. Warna liturgi yang digunakan biasanya adalah ungu atau ungu tua, yang menyimbolkan penderitaan sekaligus keagungan.

5. Sejarah Panjang Sejak Perjanjian Lama

Penggunaan abu sebagai alat pertobatan bukanlah hal baru. Praktik ini sudah ada sejak zaman Perjanjian Lama.

Sejarah mencatat, pada abad ke-5 SM, ketika Nabi Yunus menyerukan pertobatan di kota Niniwe, rajanya turun dari takhta, mengenakan kain kabung, dan duduk di atas abu sebagai tanda penyesalan massal. Tradisi menaburkan abu di kepala atau duduk di atas abu ini kemudian diwariskan oleh Gereja Perdana sebagai simbol yang sama hingga hari ini.

6. Pantang dan Puasa

Rabu Abu bukan hanya soal tanda di jidat. Hari ini juga menjadi awal dimulainya wajib puasa dan pantang bagi umat Katolik.

Puasa dan pantang ini adalah cara konkret untuk melatih pengendalian diri. Umat diajak untuk mengurangi kenikmatan duniawi sementara waktu, memberi sedekah, dan lebih banyak berdoa sebagai persiapan batin menyambut Paskah.

Jadi, jika hari ini Anda melihat teman atau kolega Anda memiliki tanda abu di dahinya, Anda tahu bahwa mereka sedang menjalani momen kontemplasi yang sakral: mengingat bahwa hidup ini sementara, dan pada akhirnya, semua akan kembali menjadi debu.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Pidato Berapi-api Jokowi di Rakernas PSI Diramalkan Jadi yang Terakhir

Minggu, 08 Februari 2026 | 02:33

UPDATE

Bebas Aktif Tapi di Bawah Komando Trump

Rabu, 18 Februari 2026 | 05:50

Prabowo Mirip Soeharto Tidak Mau Dispekulasikan Publik

Rabu, 18 Februari 2026 | 05:28

Belasan Siswa SMK Cedera Akibat Panggung Acara Perpisahan Ambruk

Rabu, 18 Februari 2026 | 04:58

Modeling Budidaya Lobster di Batam Penuhi Kebutuhan Imlek

Rabu, 18 Februari 2026 | 04:42

Polisi Lakukan Ekshumasi Selidiki Kematian Santri di Wonogiri

Rabu, 18 Februari 2026 | 04:21

Sate Maranggi Mbah Goen Hadirkan Sentuhan Budaya Sunda dan Wisata Alam

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:58

Green Jobs Class Solusi Atasi Masalah Sampah di Kota Bandung

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:36

TNI Gercep Atasi Sedimentasi di Perairan Aceh Tamiang

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:19

Legislator PKB Minta Pemprov Hati-hati Terapkan Opsen Pajak Kendaraan

Rabu, 18 Februari 2026 | 02:59

Puluhan Warga Keracunan di Purworejo Tidak Terkait MBG

Rabu, 18 Februari 2026 | 02:33

Selengkapnya