Berita

Kapal terduga penyelundup narkoba sebelum dibombardir pasukan US Southern Command (SOUTHCOM) (Tangkapan layar RMOL dari akun X @southcom)

Global

AS Bombardir Kapal Terduga Narkoba, 11 Tewas

RABU, 18 FEBRUARI 2026 | 08:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di Samudra Pasifik dan Laut Karibia. Dalam tiga serangan terbaru yang dilakukan Senin malam waktu setempat, sedikitnya 11 orang dilaporkan tewas.

Komando Selatan AS atau US Southern Command (SOUTHCOM) menyebut dua serangan terjadi di Pasifik Timur dan satu di Karibia, sebagai bagian dari operasi militer bertajuk Southern Spear.

“Sebelas teroris narkoba laki-laki tewas selama aksi ini, empat di kapal pertama di Pasifik Timur, empat di kapal kedua, dan tiga di kapal ketiga di Karibia," kata SOUTHCOM dslam pernyataan resmi, dikutip dari Al-Jazeera, Rabu 18 Februari 2026.


Sejak September lalu, pemerintahan Presiden Donald Trump gencar menyerang kapal-kapal yang mereka klaim digunakan kartel narkoba. Secara total, lebih dari 140 orang telah tewas dalam lebih dari 40 serangan serupa. Gedung Putih menyebut langkah ini sebagai upaya menekan arus narkoba masuk ke Amerika.

Namun, kampanye tersebut menuai kritik tajam dari para pakar hukum internasional dan pejabat HAM. Pelapor Khusus PBB untuk HAM dan Kontra-Terorisme, Ben Saul, menilai serangan itu sebagai pembunuhan di luar proses hukum.

“AS mengakui pembunuhan warga sipil ke-146 di laut setelah serangan militer ilegal ke-43 terhadap terduga ‘teroris narkoba’. Para pemimpin AS harus dimintai pertanggungjawaban oleh keadilan nasional atau internasional,” tulis Saul di media sosial.

Masalahnya, identitas korban tidak pernah diumumkan secara resmi, dan tidak ada bukti publik yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar terlibat perdagangan narkoba. Sejumlah keluarga di Kolombia serta Trinidad dan Tobago bahkan menyatakan korban adalah nelayan atau pekerja migran yang sedang transit. Beberapa di antaranya kini menempuh jalur hukum, termasuk menggugat pemerintah AS.

Pemerintah Trump berdalih bahwa mereka berada dalam “konflik bersenjata” melawan kelompok narkoba, yang sebagian telah dilabeli sebagai organisasi teroris asing. Klaim ini ditolak para ahli hukum internasional, yang menegaskan bahwa kejahatan narkoba tidak bisa dijadikan dasar penggunaan kekuatan militer mematikan.

Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperingatkan potensi pelanggaran Piagam PBB. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, sebelumnya menegaskan bahwa para korban tidak tampak menimbulkan ancaman langsung yang membenarkan penggunaan kekuatan bersenjata mematikan.

Meski dikecam luas, Washington tetap melanjutkan operasinya. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyindir para penyelundup lewat unggahan video kapal yang dihantam rudal.
“Ternyata Hari Presiden - di bawah Presiden Trump - bukanlah hari yang baik untuk menyelundupkan narkoba," tulisnya 

Pemerintahan Trump kini juga menyatakan siap memperluas operasi dari laut ke darat, meskipun tekanan internasional agar serangan dihentikan terus meningkat.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya