Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Ramadan dan Contoh Baik untuk Negeri

SELASA, 17 FEBRUARI 2026 | 01:41 WIB

Di penghujung malam yang sunyi ini, udara dingin masih membawa sisa-sisa hujan yang membasahi bumi pertiwi. Kita semua berdiri di gerbang Ramadan 1447 Hijriah. Besok malam, kepastian puasa akan ditentukan lewat sidang isbat, apakah dimulai hari Rabu atau Kamis. 

Perbedaan kecil ini justru menunjukkan betapa beragam dan majemuknya bangsa kita. Tapi, ini juga mengingatkan kita akan pentingnya memberi contoh yang baik, sesuatu yang sering kita lupakan. Ramadan itu bukan sekadar ganti tanggal di kalender. Lebih dari itu, Ramadan adalah panggilan jiwa untuk kembali menjadi manusia seutuhnya. Bukan sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga mengendalikan amarah, keserakahan, dan kemunafikan.

Badan Meteorologi memberitakan informasi peringatan soal gelombang tinggi sampai 4 meter, hujan deras disertai petir di banyak daerah, banjir di rel kereta Jawa Tengah, dan letusan Gunung Semeru serta Gunung Ibu. Alam seolah bicara ikut, mengingatkan kita betapa rapuhnya hidup ini. Di tengah situasi ini, Ramadan hadir sebagai ajakan untuk peduli sesama. Jangan sampai kita malah menambah beban dengan belanja berlebihan.


Ironisnya, begitulah kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Harga cabai di beberapa daerah sudah bikin geleng-geleng kepala, tembus Rp110.000 per kilo begitu juga bawang, daging ayam, telur, dan minyak goreng ikut ikutan naik, di pasar-pasar tradisional dari Jakarta, Jawa  , Sumatera, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua perlu disikapi dan dikendalikan dengan baik.

Meskipun jika dibandingkan bulan sebelumnya ada sedikit penurunan, tetap saja terasa berat bagi masyarakat kecil, apalagi menjelang puasa. Nilai Rupiah masih berkutat di angka Rp16.830–16.910 per dolar Amerika. Daya beli kita makin melemah, sementara banyak orang malah berlomba-lomba menyajikan makanan mewah saat berbuka. Di satu sisi, mungkin ada tetangga kita yang hanya bisa berbuka dengan kurma dan air putih. Di sisi lain, kita malah menutupinya dengan kata-kata bijak yang indah, tapi kosong.

Tahun ini, Imlek dan awal puasa datang hampir bersamaan. Apalagi libur bersama Imlek adalah momen langka yang seharusnya jadi jembatan untuk mempererat hubungan antar budaya dan agama. Namun, jika perpecahan lama masih terasa, jika masalah ekonomi tidak segera diatasi secara serius oleh Satgas Pangan dan kebijakan yang berpihak pada rakyat, Ramadan bisa jadi ajang memuat hal baru, bukan ruang untuk bersatu dan berempati. Memberikan contoh yang baik harus dimulai dari atas, dari para pemimpin sampai rakyat biasa.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berpuasa dengan sederhana dengan berbagi, menjaga lisan dari fitnah dan menjauhkan diri dari perbuatan haram. Coba membayangkan kalau  semua itu benar-benar kita lakukan. Para pemimpin hidup sederhana, mempercepat penyaluran bantuan sosial untuk yang membutuhkan, menjauhi politik yang memecah belah, dan fokus pada kesejahteraan masyarakat. Kalau kita semua belajar untuk tidak saling menyalahkan, tapi saling menguatkan, membersihkan hati dari iri, dengki, dan segala bentuk ketidakadilan kecil yang sering kita lakukan sehari-hari.

Kita sering lupa, Indonesia ini seperti kapal besar yang sedang terombang-ambing di tengah gelombang zaman. Tanpa Pancasila dan nilai-nilai keteladanan yang kuat, kapal ini bisa oleng. Ramadan adalah kesempatan untuk memperkuat jangkar itu. Bukan cuma lewat kegiatan seremonial, tapi lewat tindakan nyata mengendalikan harga bahan pangan, menahan diri dari godaan korupsi, dan membangun kepedulian sosial yang tulus.

Semoga Ramadan 1447 H ini bukan cuma sekadar kegiatan ibadah rutin tahunan. Semoga ini jadi momen untuk memperbaiki diri sebagai bangsa. Karena bangsa yang hebat adalah bangsa yang bisa menjaga harapan, tetap waras, dan memberikan contoh nilai-nilai terbaik di saat-saat sulit. Mulailah dari diri sendiri: langkah kecil untuk hidup sederhana hari ini bisa jadi bibit harapan untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Selamat datang bulan suci Ramadan bagi yang menjalankan. Semoga keteladanan lahir dari hati yang bersih dan perbuatan yang tulus.

Tomi Subhan
Aparatur Sipil Negara
 

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Ini Alasan APKLI Minta Gubernur Pramono Tunda Pergub KTR

Selasa, 17 Februari 2026 | 00:05

Warga Serbu Jakarta Light Festival di Kawasan Kota Tua

Senin, 16 Februari 2026 | 23:54

DJP Perlu Kerja Ekstra Kejar Target Penerimaan Pajak 2026

Senin, 16 Februari 2026 | 23:40

Rocky Gerung Singgung Tukang Kayu jadi Tahanan hingga ‘Tut Wuri Malsuin Ijazah’

Senin, 16 Februari 2026 | 23:23

Harmoni Miniatur Indonesia jadi Kunci Produktivitas PTPN IV Palmco

Senin, 16 Februari 2026 | 22:50

Komisi IV Beri Perhatian Khusus pada Inflasi dan Penguatan UMKM

Senin, 16 Februari 2026 | 22:41

Perusahaan Swedia Tunjuk Putra Batak untuk Minta Keadilan

Senin, 16 Februari 2026 | 22:38

Kapasitas Jokowi Dinilai Gagal Memanggul Idealisme Rakyat

Senin, 16 Februari 2026 | 22:22

Pemprov-Perbakin DKI Berencana Bangun Lapangan Tembak Permanen

Senin, 16 Februari 2026 | 22:18

Pajak Pedagang Olshop Segera Berlaku, DJP Tunggu Restu Purbaya

Senin, 16 Februari 2026 | 21:52

Selengkapnya