Berita

Jusuf Kalla (JK), dalam wawancara di kanal YouTube Quo Vadis Indonesia (Tangkapan layar RMOL)

Bisnis

Jusuf Kalla Ingatkan Bahaya Defisit dan Beban Bunga Utang Negara

SENIN, 16 FEBRUARI 2026 | 12:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pandangan tajam soal kondisi ekonomi Indonesia disampaikan mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), dalam wawancara di kanal YouTube Quo Vadis Indonesia. 

Dalam perbincangan bertajuk Wawancara Ekonomi Nasional, JK menyoroti persoalan defisit anggaran, rendahnya rasio pajak (tax ratio), beban utang negara, hingga tantangan swasembada pangan.

JK menilai stagnannya tax ratio Indonesia dipengaruhi dua faktor utama, yakni pertumbuhan ekonomi dan lemahnya administrasi pajak. Menurutnya, praktik penyelewengan masih kerap terjadi, termasuk kerja sama antara oknum pengusaha dan birokrasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya pembenahan sistem perpajakan agar penerimaan negara dapat lebih optimal.


Di sisi lain, ia mengingatkan pemerintah untuk menekan pengeluaran yang tidak mendesak. Keterbatasan sumber daya fiskal, kata dia, dapat memperlebar defisit anggaran jika belanja negara tidak dikendalikan. 

“Kalau ini dibiarkan, defisit makin besar, cicilan dan bunga utang makin tinggi,” ujar JK, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 16 Februari 2026. 

JK juga menyoroti posisi utang Indonesia yang disebutnya telah mendekati Rp10.000 triliun. Menurutnya, kondisi tersebut harus dikelola secara hati-hati. Jika peringkat kredit negara turun, bunga pinjaman bisa meningkat dan risiko fiskal semakin berat.

Dalam wawancara tersebut, JK turut menyinggung kebijakan pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang pernah diambil pemerintah pada 2005, ketika harga BBM dinaikkan hingga 125 persen. 

Ia menilai pemerintah harus berani mengambil kebijakan tidak populer, terutama pada tahun pertama dan kedua masa pemerintahan. Saat ini, anggaran subsidi dan bantuan sosial disebutnya mencapai sekitar Rp500 triliun. Jika dikurangi Rp200-300 triliun, ruang fiskal dinilai bisa menjadi lebih sehat.

“Presiden tidak perlu populis lima tahun. Cukup tiga tahun,” kata JK. Ia menekankan bahwa komunikasi yang baik kepada masyarakat menjadi kunci agar kebijakan sulit tetap dapat diterima.

Terkait swasembada pangan, JK mengingatkan bahwa capaian saat ini baru sebatas swasembada beras, bukan keseluruhan pangan. Indonesia masih mengimpor gandum sekitar 12 juta ton per tahun dan kedelai sekitar 2,5 juta ton. Ia membandingkan kondisi ketika jumlah penduduk masih sekitar 150 juta jiwa dengan saat ini yang hampir mencapai 300 juta jiwa. Di sisi lain, luas lahan sawah justru menurun dari 12 juta hektare menjadi sekitar 7,5 juta hektare.

Meski produktivitas meningkat dari 3,5 ton menjadi 5,5 ton per hektare, JK menegaskan pentingnya penggunaan teknologi pertanian serta perlindungan lahan agar tidak terus beralih fungsi menjadi kawasan perumahan atau industri.

Di akhir wawancara, JK menyebut Indonesia menghadapi banyak dilema. Kebutuhan pangan, energi, hingga alutsista sama-sama penting, tetapi dalam kondisi fiskal terbatas pemerintah harus berani menentukan prioritas. Ia juga menekankan pentingnya peran pengusaha sebagai “pejuang ekonomi”, meski harus menghadapi margin keuntungan yang tipis.

Menurut JK, kunci utama menjaga ketahanan ekonomi nasional adalah penegakan hukum yang konsisten. Tanpa itu, Indonesia berisiko menghadapi situasi sulit seperti krisis 1997–1998. 

“Presiden tentu tidak ingin kita kembali meminjam besar-besaran dari luar. Kemampuan dalam negeri harus kuat. Itu kuncinya,” tegasnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya