Berita

Presiden Prabowo Subianto menerima lima pengusaha nasional di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor pada Selasa malam, 10 Februari 2026. (Foto: BPMI Setpres)

Publika

Prabowo dan Benteng Oligarki

SENIN, 16 FEBRUARI 2026 | 02:59 WIB

DALAM tempo kurang dari dua minggu, Presiden Prabowo Subianto telah menyelesaikan ritual konsolidasi kekuasaan yang sistematis dan elegan. Pertama, ia mengundang kelompok oposisi kritis (Abraham Samad, Said Didu, Susno Duadji, dan kawan-kawan). 

Kedua, ia merangkul ormas-ormas keagamaan besar, termasuk MUI, dengan hadiah gedung 40 lantai di Bundaran HI. Ketiga, pada 10 Februari 2026 malam di Hambalang, giliran lima taipan terkaya: Prajogo Pangestu, Boy Thohir, Sugianto Kusuma (Aguan), Anthony Salim, dan Franky Widjaja.

Ini bukan pertemuan biasa. Ini pembangunan tameng berlapis yang sangat canggih. Dari perspektif Antonio Gramsci, ini adalah pembentukan hegemoni konsensus yang klasik. Kekuasaan tidak lagi hanya bertumpu pada dominasi (coercion), melainkan pada persetujuan aktif dari kelompok-kelompok yang potensial menjadi ancaman. 


Oposisi dijinakkan dengan “dialog terbuka”, ormas Islam diberi simbol prestise (gedung mewah di Bundaran HI), sehingga yang awalnya menentang keras BoP akhirnya mendukung. Dan konglomerat diberi jaminan “Indonesia Incorporated” -- sebuah istilah yang artinya sederhana: negara dan modal besar akan bergerak dalam satu irama.

Michel Foucault akan menyebut ini sebagai governmentality yang canggih: kekuasaan tidak lagi bekerja melalui penindasan terang-terangan, melainkan melalui jaringan relasi, insentif, dan narasi inklusivitas. Prabowo tidak memusuhi musuhnya; ia justru mengundang mereka ke meja bundar, memberi mereka perasaan dipentingkan, rasa dibutuhkan, lalu menjadikan mereka bagian dari sistem. Dan ini tentu akan menghasilkan kritik menjadi lebih terkontrol, atau setidaknya terdengar kurang legit.

Sementara itu, teori elite C. Wright Mills (The Power Elite) menemukan wujud nyata di sini: militer-politik (Prabowo), agama (MUI & ormas), dan ekonomi (lima konglomerat) kini duduk bersama dalam satu lingkaran. Ini bukan demokrasi plural, melainkan oligarki yang terorganisir.

Apa yang Sebenarnya Dicari?

Dalam amatan penulis, pertemuan dengan konglomerat jelas bertujuan: (1) Mendapatkan stempel (legitimasi) ekonomi untuk program-program besar yang mahal dan berisiko (makan siang gratis, IKN lanjutan, hilirisasi massal, rumah subsidi); (2) Memastikan stabilitas pasar dan alokasi proyek besar tanpa resistensi dari pemilik modal; dan (3) Membangun koalisi elite yang solid menjelang 2029 agar tidak ada gangguan dari dalam.

Dengan kata lain: ini sebenarnya tameng untuk melindungi keputusan yang sudah (atau akan) diambil dari kritik publik, fluktuasi pasar, dan potensi perpecahan internal.

Sementara lima orang terkaya Indonesia duduk mengelilingi meja hijau di Hambalang, kontras yang menyayat terjadi, dimana ada anak kecil di pelosok bunuh diri karena tak mampu beli pensil, dan ibu-ibu di Sumatera Utara frustasi karena banjir tak kunjung mendapat bantuan memadai. 

Beginilah wajah getir “Indonesia Incorporated”: kolaborasi negara dengan pemilik kapital yang sangat efisien untuk masyarakat yang berada di lingkup atas, tapi sering kali meninggalkan rakyat yang di bawah dalam derita di keheningan.

Dari fenomena pertemuan dengan berbagai kelompok mulai dari kelompok kritis, ormas keagamaan dan taipan, bisa disimpulkan bahwa Prabowo sedang membangun benteng yang luar biasa kokoh: oposisi dijadikan bonsai, banteng dicucuk hidungnya, dan lima singa kapital sekarang dikandangkan dengan nyaman di dalam istana. Semua lapisan potensi resistensi telah dijinakkan atau diikat dengan tali emas dan simbol.

Dan ini adalah seni berkuasa yang brilian – Machiavellian dalam kemasan modern. Tetapi, perlu diingat bahwa demokrasi yang sehat justru membutuhkan gesekan, bukan harmoni semu antar-elit. Ketika semua tameng sudah terpasang, yg tersisa hanyalah  pertanyaan yang semakin mengganggu: Apakah benteng ini dibangun untuk melindungi rakyat, atau untuk melindungi kekuasaan itu sendiri dari rakyat? Waktu yang akan menjawabnya. Tapi pola yang terbentang di depan mata sudah sangat gamblang.


Drs. Ariadi MSi
Akademisi dan Praktisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya