Berita

Ilustrasi pajak. (Freepik)

Nusantara

Baru Pertama Pakai Coretax? Simak Panduan Lengkap Lapor SPT 2026 Khusus Karyawan

KAMIS, 12 FEBRUARI 2026 | 10:30 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

 Tahun 2026 menjadi momen bersejarah bagi sistem perpajakan Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) resmi menerapkan sistem Coretax untuk pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi.

Bagi Anda karyawan yang terbiasa dengan sistem lama, jangan panik dulu. Pelaporan tahun ini–untuk masa pajak 2025–memang memiliki tampilan baru, namun prinsipnya tetap sama: lebih awal, lebih nyaman.

Agar proses lapor pajak Anda lancar dan terhindar dari status "Kurang Bayar" atau "Lebih Bayar" akibat salah input, simak panduan lengkap berikut ini.


1. Siapkan "Amunisi" Dokumen

Sebelum login, pastikan Anda sudah memegang "senjata" utama. Untuk karyawan swasta, Anda wajib meminta Formulir 1721-A1 dari perusahaan. Sementara bagi ASN, TNI, atau Polri, pastikan Anda memegang Formulir 1721-A2.

Selain itu, siapkan data pelengkap seperti daftar susunan anggota keluarga, daftar harta, dan kewajiban/utang per akhir tahun 2025. Pastikan Anda sudah memiliki akun Coretax dan kode otorisasi DJP.

Tips Penting: Cek kembali bukti potong A1/A2 Anda. Jika ada kesalahan angka atau penghitungan, segera minta bagian HRD atau keuangan kantor Anda untuk melakukan pembetulan sebelum Anda lapor.

2. Langkah Praktis di Coretax

Berbeda dengan e-Filing lama, berikut alur ringkas melapor di Coretax:

Akses Menu: Setelah login, masuk ke menu “Surat Pemberitahuan (SPT)”, lalu klik submenu dengan nama yang sama.

Buat Konsep: Klik “Buat Konsep SPT”, pilih jenis “PPh Orang Pribadi”.

Pilih Periode: Pastikan memilih “SPT Tahunan” untuk periode “Januari - Desember 2025”.

Mulai Mengisi: Pilih model “Normal”, klik buat konsep, lalu tekan ikon pensil untuk mulai mengisi data.

Bagi karyawan yang hanya bekerja pada satu pemberi kerja, pastikan menjawab "Ya" pada pertanyaan apakah menerima penghasilan dalam negeri dari pekerjaan (poin 1.a) dan apakah ada PPh yang dipotong pihak lain (poin 10.a).

3. Awas Jebakan "Salah Kamar" saat Input Angka

Ini adalah bagian paling krusial. Banyak Wajib Pajak sering tergelincir di sini. Kesalahan memasukkan angka dari bukti potong ke kolom Coretax bisa berakibat fatal pada status akhir SPT Anda.

Perhatikan rumus "jodoh" kolom ini agar tidak salah:

Penghasilan Neto (Bagian D Coretax):

Pemegang 1721-A1 (Swasta): Isi berdasarkan angka 15 di bukti potong.

Pemegang 1721-A2 (ASN/TNI/Polri): Isi berdasarkan angka 16 di bukti potong.

Kredit Pajak (Bagian E Coretax):

Pemegang 1721-A1: Isi berdasarkan angka 21.

Pemegang 1721-A2: Isi berdasarkan angka 22.

4. Risiko Fatal: Sulit Putar Balik jika "Lebih Bayar"

Sistem Coretax menerapkan konsep Delta SPT yang lebih ketat. Jika Anda salah input sehingga status SPT menjadi "Kurang Bayar", Anda masih bisa membatalkan kode billing dan kembali ke konsep.

Namun, waspadalah jika statusnya menjadi "Lebih Bayar" padahal seharusnya Nihil. Di Coretax, Anda tidak dapat membatalkan atau mengubah kembali status SPT tersebut menjadi konsep begitu saja.

Anda terpaksa harus menunggu surat pemberitahuan atau pemeriksaan dari kantor pajak terkait status tersebut. Tentu Anda tidak ingin repot diperiksa hanya karena salah ketik, bukan?

Jadi, telitilah sebelum klik kirim. Pastikan data yang dimasukkan benar, lengkap, dan jelas. Selamat melaporkan SPT Tahunan perdana Anda di sistem baru!

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya