Berita

Ilustrasi, Genteng Tanah Liat (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Prabowo Luncurkan Program Gentengisasi, Ini Sejarah Genteng di Dunia

RABU, 11 FEBRUARI 2026 | 18:54 WIB

Presiden Prabowo Subianto merancang program baru yakni Gentengisasi.

Program Gentengisasi merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang juga dikenalkan Prabowo dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul pada Senin 2 Februai 2026. 

Program Gentengisasi salah satu langkah pemerintah untuk memperbaiki standar rumah penduduk serta mengatasi isu kekurangan perumahan. Program ini disebut akan menjadi gerakan nasional untuk mengganti atap rumah berbahan seng menjadi genteng, terutama genteng dari tanah liat.


Tujuan utamanya bukan hanya sekedar mengganti material atap, namun untuk memperindah wajah Indonesia, meningkatkan kenyamanan hunian, memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan. Program Gentengisasi juga bertujuan untuk menggerakkan ekonomi rakyat dari tingkat desa. 

Penggunaan seng yang masih banyak ditemukan di berbagai daerah dinilai kurang sesuai untuk iklim tropis. Material ini sering menimbulkan masalah seperti suhu rumah yang lebih panas, mudah berkarat, serta tampilan yang kurang rapi sehingga dianggap tidak mencerminkan kemajuan bangsa dan estetika lingkungan.

Menariknya penggunaan genteng tanah liat atau roofing tile sebagai pelindung bangunan ternyata memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang. Meski asal-usul pastinya belum diketahui, penggunaan material ini dapat ditelusuri hingga beberapa abad sebelum Masehi.


Sejarah Genteng di Dunia

Dikutip dari National Building Arts, genteng terra-cotta tertua yang pernah ditemukan berasal dari reruntuhan Kuil Hera di Olympia, Yunani, yang diperkirakan berasal dari tahun 1.000 SM. Namun, para ahli meyakini bahwa teknologi pembakaran tanah liat ini kemungkinan besar berakar dari peradaban kuno di Asia Minor atau China.

Berbeda dengan batu alam yang mudah hancur atau logam yang mengalami oksidasi dan berkarat, tanah liat yang dibakar keras (hard burned clay) hampir tidak bisa hancur oleh proses pelapukan. Hal inilah yang membuat potongan genteng sering menjadi satu-satunya peninggalan arkeologis yang tersisa dari struktur prasejarah.

Di Amerika Serikat, pembuatan genteng pertama kali dibawa oleh para imigran Eropa. Pada 1735, pemukim Jerman di Pennsylvania mulai memproduksi genteng datar.

Sementara itu, di Ohio, sejarah mencatat John Robinson sebagai pionir yang memproduksi genteng secara mandiri di Germantown pada 1814 untuk membangun rumah dan kandangnya. Namun, produksi skala besar di Ohio justru dimulai oleh kelompok keagamaan Zoarites sekitar 1820. 

Di Indonesia, penggunaan genteng tanah liat berkembang pesat pada awal abad ke-20. Dikutip dari studi berjudul Sejarah Genteng Jatiwangi Majalengka (2022), perkembangan ini dipicu oleh kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda dalam merespons wabah pes.

Pada awal 1900-an, kebijakan “gentengisasi” diterapkan untuk mendorong masyarakat beralih dari atap ijuk atau sirap menjadi genteng tanah liat yang dinilai lebih bersih dan aman. Industri genteng kemudian tumbuh di berbagai sentra produksi seperti Kebumen (Sokka) dan Jatiwangi, Majalengka, sejak 1900-an. 

Seiring waktu, produksi genteng berevolusi dari teknik manual hingga menggunakan mesin. Beberapa perusahaan seperti Teeuwen Tegelen dan D.V. Oordt & Co. tercatat memproduksi genteng pada era 1920-an. 

Di Tulungagung, industri genteng rakyat juga mulai berkembang sejak masa kolonial, dengan pengrajin yang bertahan hingga kini. Selain itu, genteng Batavia bermerek “Tan Liok Tiauw” menjadi salah satu simbol industri kolonial yang memadukan pengaruh budaya Cina dan Eropa.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Bukan Indonesia yang Bebaskan Flotilla dari Israel

Sabtu, 23 Mei 2026 | 01:30

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Asosiasi Dosen Tuntut Gaji Minimal Dua Kali Lipat UMP

Senin, 25 Mei 2026 | 12:20

Zulhas Jangan Limpahkan Salah Nama Desa ke Bawahan

Senin, 25 Mei 2026 | 12:19

Fraksi Gerindra Apresiasi Pemulangan 9 WNI, Sebut Bukti Efektivitas Diplomasi RI

Senin, 25 Mei 2026 | 12:04

Dolar Kabur, Mafia Makmur

Senin, 25 Mei 2026 | 12:00

Rencana Jokowi Keliling Indonesia Diduga Terkait Dinamika Politik 2029

Senin, 25 Mei 2026 | 11:55

Kiai Imam Jazuli Perkuat Inovasi Pesantren Lewat Workshop Nasional

Senin, 25 Mei 2026 | 11:52

Pengamat Soroti Dampak Zulhas Salah Informasi ke Presiden

Senin, 25 Mei 2026 | 11:44

GOR Tri Lomba Juang Bakal Direhabilitasi Standart World Athletics Certification System

Senin, 25 Mei 2026 | 11:41

Awal Pekan, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp81 Ribu per Kg

Senin, 25 Mei 2026 | 11:39

LOFF 2026 Dorong Kota Semarang Jadi Pusat Ekosistem Sinema Dunia

Senin, 25 Mei 2026 | 11:31

Selengkapnya