Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Bank Himbara dan Pertahanan Negara

SELASA, 10 FEBRUARI 2026 | 20:41 WIB

BARU-baru ini, kita disajikan sebuah diskursus publik terkait pernyataan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin tentang rencana Presiden Prabowo Subianto mengganti direksi bank-bank Himbara dengan alasan bank pelat merah dinilai lebih menguntungkan pengusaha besar ketimbang memperluas kredit bagi pengusaha kecil, memantik debat publik yang cepat memanas. Debatnya cenderung terbelah, ada yang menganggap ini semata urusan korporasi dan “tidak ada kaitan dengan pertahanan”, sementara yang lain menilainya sebagai bagian dari agenda kedaulatan ekonomi.

Saya memilih berdiri pada posisi yang lebih dingin, yakni kaitan itu wajar dan rasional, tetapi hanya jika diletakkan pada kerangka kedaulatan nasional dan tetap tunduk pada pagar tata kelola. Kita tidak sedang “memiliterkan bank”. Kita sedang mengakui satu realitas, dimana negara modern dapat diguncang bukan hanya oleh ancaman bersenjata, melainkan oleh ancaman nonmiliter yang menekan urat nadi kehidupan termasuk ekonomi.

Pijakan konseptualnya bukan karangan. Dokumen kebijakan pertahanan kita da?am buku Putih Pertahanan menegaskan bahwa ancaman nonmiliter mencakup dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, teknologi informasi, hingga keselamatan umum, dan ketika ancaman nonmiliter yang dihadapi, kementerian/lembaga di luar bidang pertahanan dapat menjadi unsur utama penanganan sesuai bentuk ancamannya, dengan unsur pertahanan sebagai pendukung sesuai kebutuhan. Dengan kerangka seperti ini, membawa isu ekonomi tertentu ke “spektrum pertahanan” pada dasarnya adalah cara membaca ancaman secara lebih kontemporer, bukan justru sebuah penyimpangan.


Kerangka itu makin relevan ketika pemerintah menempatkan swasembada pangan dan energi sebagai fondasi strategi transformasi bangsa. Jika pangan dan energi dipahami sebagai pilar kedaulatan, maka pertanyaannya menjadi praktis, yakni bagaimana pilar itu dibiayai, siapa yang memperoleh akses kredit, dan seberapa kuat sistem keuangan menopang produksi domestik ketika krisis global menekan?

Di sinilah bank-bank Himbara menjadi simpul strategis. Mereka bukan hanya sekadar entitas bisnis yang menghitung laba kuartalan, melainkan mesin intermediasi yang sangat menentukan arah pembiayaan sektor riil, mulai dari UMKM, pertanian dan rantai pasok pangan, hingga proyek energi dan industrialisasi. Ketika pembiayaan lebih terkonsentrasi pada segmen yang sudah kuat, sementara sektor produktif rakyat kesulitan akses, negara bukan hanya menghadapi masalah pemerataan, namun juga negara memperbesar kerentanan strukturalnya sendiri.

Mengapa kerentanan itu bisa masuk ranah pertahanan? Karena jalur “serangan” era ini sering tidak berwujud tank ataupun rudal. Jalur itu bisa berupa tekanan pada stabilitas harga, guncangan likuiditas, runtuhnya kepercayaan pasar, atau tersendatnya pasokan komoditas kunci. Dalam situasi seperti itu, kebijakan kredit bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan instrumen daya tahan, sebab dapat menentukan apakah shock eksternal berubah menjadi krisis sosial-politik di dalam negeri, atau justru diredam oleh struktur ekonomi yang tangguh.

Sejarah memberi pelajaran yang terlalu mahal untuk diabaikan. Pada puncak krisis 1997–1998, berbagai catatan menyebut kontraksi ekonomi Indonesia pada 1998 mencapai sekitar -13 persen, disertai tekanan nilai tukar dan runtuhnya kepercayaan yang memicu krisis politik secara bersamaan. Dalam rangkaian perkembangan politik, krisis ekonomi dan keresahan publik menjadi konteks yang mengantar pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998. Pesannya lugas, hal ini terkait bagaimana jika ekonomi yang kolaps bukan hanya menurunkan angka pertumbuhan, namun dapat meruntuhkan legitimasi dan stabilitas negara.

Pelajaran serupa terlihat di Sri Lanka pada 2022. Presiden Gotabaya Rajapaksa dilaporkan meninggalkan negara di tengah gelombang protes setelah kolaps ekonomi memicu kemarahan publik. Di Argentina, Fernando de la Rúa mengundurkan diri pada Desember 2001 di tengah krisis finansial dan kekacauan sosial, setelah kerusuhan pecah. Dua contoh ini memperkuat satu kesimpulan, krisis ekonomi dapat menjadi krisis keamanan nasional dan krisis politik sekaligus.

Maka, ketika Menhan Sjafrie menyebut perombakan direksi bank negara dalam bingkai “kedaulatan ekonomi”, sebenarnya sedang menunjuk satu titik yang sering dilupakan, yakni sektor keuangan terutama bank sistemik milik negara dapat menjadi penentu apakah kedaulatan pangan-energi hanya slogan, atau benar-benar menjadi kemampuan nasional. Dalam konteks itu, mengaitkan bank Himbara dengan spektrum pertahanan bukan tindakan “melompat pagar”, melainkan membaca bank sebagai bagian dari infrastruktur strategis yang menopang ketahanan nasional.

Namun, ada satu syarat yang tidak bisa ditawar, yakni legitimasi isu tidak boleh berubah menjadi kebebasan prosedur. Justru karena menyangkut simpul kepercayaan dan stabilitas sistemik, pembenahan direksi harus dilakukan melalui mekanisme yang sah, transparan, berbasis indikator kinerja yang dapat diuji, dan komunikasinya harus menenangkan, bukan mengagitasi, sehingga tidak menciptakan risiko baru di pasar. Jika tidak, niat memperkuat ketahanan ekonomi bisa berbalik menjadi sumber ketidakpastian.

Singkatnya, spektrum pertahanan yang modern memang meluas, dari sektor pangan, energi, dan ekonomi. Tetapi semakin luas spektrumnya, semakin tinggi disiplin tata kelola yang dituntut. Pertahanan yang matang bukan yang paling lantang menyebut “ancaman”, melainkan yang paling tertib memastikan fondasi negara, termasuk sistem pembiayaan, benar-benar bekerja untuk kedaulatan dan keselamatan rakyat.

Tunjung Budi Utomo
Direktur Eksekutif Semar Institut dan Alumni Program Magister Administrasi Publik Universitas Moestopo Beragama


Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

UPDATE

Prediksi Mossad Gagal, Netanyahu Disebut Murka ke Direktur Intelijen

Senin, 23 Maret 2026 | 13:39

Kasus Andrie Yunus Bisa Diusut Timwas Intelijen DPR

Senin, 23 Maret 2026 | 13:23

Pengamat: Trump Inkonsisten Soal Selat Hormuz

Senin, 23 Maret 2026 | 13:09

Daftar Negara yang Terancam Bangkrut Akibat Perang Iran

Senin, 23 Maret 2026 | 12:53

Gebrakan Xiaomi SU7 2026: Ludes 15 Ribu Unit dalam 34 Menit, Daya Jelajah Tembus 900 Km!

Senin, 23 Maret 2026 | 12:37

H+2 Lebaran, Emas Antam Turun Rp50 Ribu

Senin, 23 Maret 2026 | 12:35

WFH Jangan Ganggu Kinerja Perusahaan, DPR Minta Pemerintah Hati-hati

Senin, 23 Maret 2026 | 12:31

124 Perusahaan Truk Kena Sanksi Saat Lebaran, Mayoritas Pelanggaran ODOL

Senin, 23 Maret 2026 | 12:08

Menhub Siapkan Strategi Khusus Amankan Arus Balik Lebaran 1447 H Lintas Sumatra-Jawa

Senin, 23 Maret 2026 | 11:27

DJP: Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta, Lapor SPT Tahunan Capai 8,7 Juta

Senin, 23 Maret 2026 | 11:03

Selengkapnya