Berita

Pakar ekonomi Dr. Gema Goeyardi (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Don Cast – Nusantara TV)

Bisnis

Pakar: Pasar Modal Indonesia "Seksi" tapi Berisiko

SENIN, 09 FEBRUARI 2026 | 07:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kondisi pasar modal Indonesia tengah menjadi sorotan tajam. Pakar ekonomi Dr. Gema Goeyardi, mengungkapkan pandangan kritisnya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar lantai bursa tanah air.

Dalam sebuah wawancara di program Don Cast Nusantara TV, Gema yang juga merupakan Penasihat Founder dan CEO Astronacci International sekaligus mantan Penasihat Senior di Kantor Staf Presiden (KSP), menyebut bahwa Indonesia sebenarnya memiliki fundamental yang sangat kuat, namun terganjal oleh masalah likuiditas dan tata kelola.

Menurut Gema, secara historis, Indonesia adalah "primadona" di kawasan regional. Sejak tahun 2010, kinerja emiten dan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara konsisten melampaui negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.


"Pasar modal Indonesia adalah yang terbaik di Asia Tenggara. Dari segi earnings, model bisnis, hingga kemampuan bangkit dari krisis seperti Covid-19, kita selalu bisa mencetak all-time high," ujar Gema, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 9 Februari 2026. 

Gema juga menegaskan bahwa secara fundamental, pasar Indonesia sangat menarik dan "seksi" di mata dunia. 

Namun begitu, ia menyoroti fakta pahit bahwa skala pasar modal Indonesia masih sangat kecil di mata investor global. Ia menceritakan pengalamannya saat melayani hedge fund asal Amerika Serikat (AS) yang memiliki dana kelolaan raksasa.

"Emiten dengan kapitalisasi terbesar di Indonesia, seperti Astra International atau Gudang Garam, itu bagi mereka masih dianggap small cap (saham kapitalisasi kecil)," ungkapnya. 

Hal ini menjadi tantangan besar ketika investor institusi besar ingin menyuntikkan dana dalam jumlah jumbo, misalnya Rp50 triliun, karena keterbatasan pilihan aset yang tersedia.

Namun, masalah utama yang membuat investor asing ragu bukan sekadar ukuran pasar, melainkan kepastian untuk keluar dari pasar (exit strategy). Gema menekankan bahwa transparansi dan likuiditas adalah kunci kepercayaan investor.

"Investor besar takut satu hal: Masuk bisa, tapi keluar tidak bisa," tegas pria yang merupakan satu-satunya penyandang gelar Master Financial Technical Analyst (MFTA) di Indonesia tersebut.

Gema menilai, ketika likuiditas tiba-tiba hilang dan transparansi menguap saat investor sudah menanamkan modal besar, hal tersebut dipandang negatif oleh dunia internasional.

"Dari sudut pandang investor global, itu dianggap sebagai perampokan finansial. Mereka membawa kapital besar, tapi tidak mendapatkan kepastian likuiditas dan perlindungan pasar yang sehat," tambah Gema.

Sosok yang juga aktif sebagai pilot instruktur ini berharap pemerintah dan regulator dapat membenahi tata kelola bursa demi menjaga integritas pasar. Baginya, ekonomi dan kepercayaan investor adalah pilar yang tidak bisa dipisahkan jika Indonesia ingin benar-benar menjadi pemain besar di kancah global.

Gema pun menyatakan ambisinya untuk terus menginspirasi melalui dua dunia yang ia tekuni: ekonomi dan penerbangan. "Jiwa saya selalu di langit, tapi saya tidak mungkin menjadi aviator tanpa modal dari pasar modal," pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya