Berita

Din Syamsuddin (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 10:01 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Prakarsa Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump merupakan bentuk baru Neo Kolonialisme dan Imperialisme (Nekolim).

Menurut Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Nekolim, meminjam istilah Presiden pertama RI Soekarno, adalah bentuk penjajahan dan penguasaan suatu negara oleh negara lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Dalam literatur politik, imperialisme dimaknai sebagai kecenderungan memperluas kekuasaan, pengaruh, dan kendali atas negara lain, sementara kolonialisme adalah praktik penguasaan wilayah dan rakyat demi kepentingan politik dan ekonomi pihak yang lebih kuat.


“Kedua pengertian tadi tepat untuk dikenakan pada prakarsa Board of Peace Donald Trump di Gaza,” kata Din dalam keterangannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu, 7 Februari 2026.

Din menegaskan, Board of Peace bukan ditujukan untuk menciptakan perdamaian kawasan, apalagi perdamaian dunia. Sebaliknya, dewan tersebut justru berpotensi mendorong ketidakamanan dan ketidakstabilan di Timur Tengah dan Dunia Islam.

Hal itu, lanjutnya, disebabkan oleh standar ganda dan pembiaran terhadap ketidakadilan. Donald Trump dan Amerika Serikat dinilai bungkam terhadap agresi dan tindak kekerasan Israel yang masih berlangsung di wilayah Palestina, namun di saat yang sama menyiapkan serangan skala besar terhadap Iran.

“Adalah naif dan ironis berdalih ingin membangun kembali Gaza akibat ulah Israel tapi tidak melibatkan Tokoh Gaza/Palestina, sementara PM Israel Netanyahu dilibatkan,” tegas Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Menurut Din, prakarsa tersebut dalam jangka panjang akan menguntungkan Israel dan merupakan bentuk ekspansi atau penjajahan terselubung atas Palestina. Karena itu, ia menilai Donald Trump tidak memenuhi syarat sebagai peace maker, melainkan lebih tepat disebut sebagai trouble maker.

Din mencontohkan rekam jejak Trump terhadap Venezuela dan Greenland. 

“Maka prakarsa Board of Peace adalah kamuflase dan mengandung agenda tersembunyi (hidden agenda),” ujar mantan Ketua Umum MUI tersebut.

Din meyakini, sikap arogan dan sepihak ini akan memicu meningkatnya global people’s power. Apalagi, banyak negara pencinta perdamaian dan keadilan menolak bergabung dalam Board of Peace.

Bahkan di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, penolakan terhadap Donald Trump terus bermunculan. Sejumlah anggota Senat dan Kongres AS, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, disebut telah mengingatkan bahwa manuver Trump berpotensi mengarah pada pemakzulan.

“Jika ini terjadi maka nasib Board of Peace akan tenggelam ditelan gelombang, dan negara-negara pendukungnya akan gigit jari,” katanya.

Din juga menyerukan para pemimpin negara-negara Islam yang telah terlanjur bergabung dalam Board of Peace untuk berpikir ulang dan mendengarkan suara hati nurani.

“Hati nurani akan membisikkan kebenaran, hati zulmani membisikkan keburukan dan kejahatan,” ucapnya.

Ia menyinggung kerugian bangsa akibat alokasi dana hingga Rp17 triliun yang dinilai terbuang percuma di tengah kemiskinan dan penderitaan rakyat. Karena itu, Din mengajak para ulama dan zuama untuk tetap beristiqamah sebagai khadimul ummah dan berpegang teguh pada amanat konstitusi.

“Amanat konstitusi mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus segala bentu penjajahan dari muka bumi,” pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya