Berita

Sepucuk surat YBS untuk ibunya sebelum meninggal dunia. (Foto: Media Sosial)

Publika

Duka Sebatang Pena

KAMIS, 05 FEBRUARI 2026 | 22:34 WIB

SURAT singkat itu ditulis di kertas kumal dengan sebatang pensil, menggores kata demi kata dalam bahasa Bajawa – Flores. Kata maaf ditujukan kepada mama Tii dengan gambar seseorang anak yang menangis.

Kertas Tii Mama Reti
(Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee
(Mama pelit sekali)

(Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama
(Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee
(Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama
(Selamat tinggal mama). 

Pena dan rasa kemanusiaan kita.

Sebatang pena bisa mengubah jalannya dunia. Tapi di Bajawa Flores, YBS sebatang pena yang tak terbeli mengiris hati kemanusiaan kita. 

Dalam sunyi yang tak terjangkau. Di bawah pohon cengkeh yang menua anak sekecil itu mengembuskan napas terakhirnya. 

Himpitan ekonomi membuat Yohanes menghembuskan diri “pergi” dan tinggalkan surat pilu. Ia minta dibelikan buku dan pena, tapi tak bisa dipenuhi karena keluarganya tak punya uang.

Di mana hadirnya negara?
 
Ironi sebatang pena di Bajawa Flores –mempertanyakan ke mana tangan Negara hadir untuk rakyat yang paling bawah. 

Selama 11 tahun keluarga YBS, siswa SD yang meninggal di NTT, tidak mendapatkan bantuan sosial. Padahal, mereka termasuk keluarga kurang mampu.

Di tengah geliat narasi dan wajah elite kita menyetor triliunan rupiah. Duka nestapa justru hadir untuk sebuah batang pena. Yang tak terbeli.

Sebagai entitas negara dan manusia kita bukan saja gagal menyalakan terang dalam gelap. 

Kebijakan negara memperkirakan angka kemiskinan hanya berdasarkan selera kekuasaan dan politis. Paradigma ini seringkali menjadi sikap yang berubah menempatkan keadilan bagi rakyat yang sering terdampak.

Di sisi lain watak kiasan seringkali menunjukkan rasa tak pernah puas, kerakusan, korupsi, keserakahan tak henti dipertontonkan di bangsa ini.

Kita semakin hidup di alam yang semuanya new currency, siapa yang bisa menarik atensi paling banyak dia yang akan menang. 

Ketika atensi menjadi validasi manusia, ukuran hidup menjadi topeng sehingga luput –menghadirkan otentitas wajah yang lebih manusiawi. 

Problem sosial publik saat ini terus mempertontonkan glamoritas, penurunan indeks IQ. menurunkan Brian Rot dan kepekaan sosial. 

Kepergian YBS, membuka kotak pandora bahwa fakta kemiskinan masih akut di negara ini. Masih banyak yang tak terungkap. Keadilan dan kesejahteraan yang tak terdistribusi dengan baik menjadi PR besar bagi bangsa ini. 

Pulanglah dalam tenang YBS, pena yang tak terbeli biar menjadi alarm kemanusiaan bagi bangsa ini. Menjadi pengingat bagian terdalam rasa empati yang makin hilang.

Hairul
Pembaca RMOL

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya