Berita

DPP PKB menggelar diskusi publik bertajuk “Transformasi Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua” di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026. (Foto: Humas PKB)

Politik

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

KAMIS, 05 FEBRUARI 2026 | 18:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) menggelar diskusi publik bertajuk “Transformasi Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua” di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Kegiatan ini digelar sebagai wujud tanggung jawab moral merawat warisan ulama sekaligus membuka ruang gagasan strategis bagi masa depan NU.

Wakil Ketua Umum DPP PKB Hanif Dhakiri menegaskan, PKB memiliki ikatan historis dan ideologis yang tidak terpisahkan dari NU. Mengutip KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia menyebut PKB sebagai “telurnya NU”.


“Sebagai anak, PKB tidak mungkin lepas tangan. Namun cinta tidak berarti mencampuri. PKB menghormati penuh kemandirian NU dan tidak masuk ke urusan internal,” tegas Hanif.

Menurutnya, dinamika yang terjadi di tubuh organisasi besar seperti NU harus dilihat sebagai momentum konsolidasi dan pembaruan, baik pada aspek kelembagaan, tata kelola, maupun kepemimpinan, agar NU tetap kokoh menjalankan khidmah keumatan dan kebangsaan.

“NU adalah pilar moderasi Islam, perekat sosial, dan penyangga moral bangsa. Jika NU melemah, baik secara kelembagaan, konsolidasi, maupun arah kepemimpinan, risikonya bukan hanya bagi warga NU, tetapi juga bagi stabilitas dan masa depan Indonesia,” ujarnya.

Hanif menegaskan pentingnya penguatan organisasi, pembaruan tata kelola, serta transformasi kepemimpinan yang berakar pada nilai dan garis perjuangan para pendiri NU, yaitu melayani umat, menjaga bangsa, dan menjadi sumber kebijaksanaan.

“NU terlalu besar untuk terseret kepentingan sempit. NU penting bagi negara, penting bagi pemerintah, dan penting bagi masa depan Indonesia. Menjaga NU tetap kuat, relevan, dan bersatu adalah kepentingan bersama,” katanya.

Ia menutup dengan menegaskan komitmen PKB untuk terus merawat nilai, menjaga marwah ulama, dan memastikan NU memasuki abad kedua sebagai kekuatan peradaban yang memberi manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh dan intelektual NU, antara lain KH Abdussalam Shohib, AS Hikam, KH Said Aqil Siroj, KH Zulfa Mustofa, Fachry Ali, KH Yusuf Chudlory, serta Savic Ali.

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

UPDATE

BNI dan Universitas Terbuka Perkuat Digitalisasi Dana Riset

Rabu, 25 Februari 2026 | 18:10

KPK Agendakan Ulang Periksa Budi Karya Pekan Depan

Rabu, 25 Februari 2026 | 18:05

BGN Tegaskan Jatah MBG Rp8–10 Ribu per Porsi, Bukan Rp15 Ribu

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:52

PDIP Singgung Keadilan Anggaran antara Pendidikan dengan MBG

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:30

Purbaya Tunggu Arahan Prabowo soal Usulan THR Bebas Pajak

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:25

Saksi Sebut Tak Ada Aliran Dana ke Nadiem dan Harga Chromebook Dinilai Wajar

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:20

Mudik Gratis Jasa Marga 2026 Dibuka, Ini Cara Daftar dan Rutenya

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:18

Legislator PDIP Minta Tukang Ojek Pandeglang Dibebaskan dari Tuntutan Hukum

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:11

Meksiko Jamin Piala Dunia 2026 Aman usai Bentrokan Kartel

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:00

5 Cara Mencegah Dehidrasi saat Puasa Ramadan agar Tubuh Tetap Bugar

Rabu, 25 Februari 2026 | 16:54

Selengkapnya