Berita

Joko Widodo di Rakernas Perdana PSI. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

RABU, 04 FEBRUARI 2026 | 01:45 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Terlibatnya mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di tubuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) disinyalir justru memberikan efek negatif.

Pengamat politik Citra Institute, Efriza menilai citra Jokowi di publik sudah terlanjur negatif, sementara PSI yang awalnya memiliki arah yang progresif malah akan terdampak.

"Jika dicermati, Jokowi telah membawa pengaruh dan nilai buruk bagi PSI, karena sebelum PSI mengkultuskan Jokowi dan dipegang oleh Kaesang anak bungsunya, partai ini punya pengaruh dan nilai jual dengan gagasan yang progresif," ujar dia kepada RMOL di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.


Selain dipicu beragam kasus yang menyangkut diri Jokowi maupun putra dan menantunya, Presiden ke-7 RI itu makin dipersepsikan publik sebagai sosok yang haus kekuasaan. 

"Bagi Jokowi, PSI diharapkan dapat menjadi alat bargaining politik untuk memperoleh dukungan, menghindari dirinya dan keluarganya dari berbagai permasalahan hukum yang sedang mendera, dan menjaga kontinuitas pengaruhnya dalam konfigurasi politik nasional," tuturnya. 

Lebih dari itu, magister ilmu politik Universitas Nasional (UNAS) itu meyakini, publik sudah bisa membaca arah politik Jokowi yang tidak hanya membuat dinasti politik saja tapi juga berupaya membesarkannya.

Karena itu, kemungkinan PSI dalam menghadapi kontestasi pemilihan umum (Pemilu) di 2029 nanti tidaklah mudah.

"Bahkan ke depannya memang ditengarai PSI diharapkan dapat menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar Jokowi dalam peruntungan politik, oleh sebab itu, berat kemungkinan bisa lolos parliamentary threshold," demikian Efriza menambahkan.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya