Berita

Ilustrasi: Sungai Ciliwung. (Foto: Wikipedia)

Publika

Air jadi Sahabat dan Musuh Jakarta

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 05:59 WIB

AIR adalah sumber kehidupan yang tidak tergantikan. Tanpa air, manusia tidak dapat hidup, tidak dapat menjaga kesehatan, dan tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Di Jakarta, air memegang peran penting dalam menopang kehidupan warga, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pangan, industri, hingga keberlangsungan ekosistem perkotaan. 

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa air kerap hadir bukan hanya sebagai berkah, melainkan juga sebagai ancaman.


Banjir yang hampir rutin terjadi setiap musim hujan menjadi bukti bahwa persoalan air di Jakarta tidak semata-mata disebabkan oleh tingginya curah hujan. 

Masalah utama justru terletak pada pengelolaan air yang belum terintegrasi dan berkelanjutan. 

Air hujan yang seharusnya menjadi sumber daya justru berubah menjadi bencana ketika ruang resapan semakin menyempit, sungai dan saluran tersumbat, serta infrastruktur drainase tidak berfungsi optimal.

Air hujan pada dasarnya adalah sahabat. Ia memberi kehidupan, menyuburkan tanah, dan menjaga keseimbangan alam. 

Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, air hujan dapat berubah menjadi musuh yang merusak permukiman, melumpuhkan aktivitas ekonomi, dan mengancam keselamatan warga. 

Karena itu, paradigma pengelolaan air di Jakarta perlu diubah, dari sekadar mengalirkan air secepat mungkin ke laut menjadi upaya menahan, menyerap, dan memanfaatkannya secara cerdas.

Salah satu kebijakan yang sering dibahas dalam konteks pengendalian banjir adalah Program Pengalihan Hujan (PPH). 

Program ini bertujuan mengalihkan air hujan ke waduk, sungai, atau kawasan tertentu untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menambah cadangan air tanah. 

Jika dirancang dan dijalankan dengan baik, PPH dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan air perkotaan.

Namun, PPH juga memiliki tantangan serius. Tanpa perencanaan berbasis data dan kapasitas lingkungan, pengalihan air justru berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti kelebihan air di wilayah lain atau kerusakan infrastruktur penampung. 

Karena itu, PPH tidak boleh dilihat sebagai solusi instan, melainkan sebagai bagian dari sistem yang lebih besar dan terintegrasi.

Dalam konteks inilah, pendekatan Water Sensitive Urban Design (WSUD) menjadi sangat relevan bagi Jakarta. 

WSUD menekankan pentingnya mengintegrasikan pengelolaan air ke dalam perencanaan kota secara menyeluruh dan berkelanjutan. Kota tidak hanya dibangun untuk manusia, tetapi juga harus selaras dengan siklus alami air.

Penerapan WSUD di Jakarta menuntut evaluasi menyeluruh hingga ke tingkat kelurahan. Dari total 267 kelurahan di DKI Jakarta, masing-masing memiliki karakteristik dan persoalan air yang berbeda. 

Ada wilayah dengan bangunan masif yang menghambat aliran air, ada pula lingkungan dengan saluran yang tidak terawat. Sungai dan kali perlu dimonitor secara rutin dan dikeruk secara berkala, dengan prinsip transparansi dan tanpa manipulasi data.

Namun, keberhasilan pengelolaan air tidak hanya bergantung pada kebijakan dan anggaran pemerintah. Partisipasi masyarakat memiliki peran yang sangat penting. 

Kebiasaan sederhana seperti menghemat air, tidak membuang sampah ke saluran dan sungai, serta terlibat dalam kegiatan lingkungan dapat memberikan dampak nyata dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh cara kita memperlakukan air hari ini. Jika dikelola dengan bijak, air akan menjadi sahabat yang menjaga kehidupan dan keberlanjutan kota. 

Namun, jika diabaikan dan dikelola tanpa perencanaan yang matang, air akan terus hadir sebagai musuh yang membawa bencana. Pilihan itu ada di tangan kita bersama.


Tobaristani 
Aktivis Lintas Generasi, Pegiat Sosial Jakarta, Ketua FKDM Provinsi DKI Jakarta 2023-2024


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya