Berita

Webinar nasional Global Insight Forum, Sabtu, 31 Januari 2026 (Foto: Tangkapan Layar)

Global

Global Insight Forum Nilai AS Kian Agresif, Negara Kaya SDA Rawan Jadi Sasaran

MINGGU, 01 FEBRUARI 2026 | 10:10 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Global Insight Forum (GIF) menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) semakin menunjukkan watak agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global. 

Pola tekanan tersebut dinilai menyasar negara-negara yang memiliki sumber daya alam strategis, sekaligus berada dalam posisi kepemimpinan nasional yang rentan.

Pandangan itu mengemuka dalam webinar nasional bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenland, ‘Siapa’ Target Selanjutnya?” yang digelar secara daring, Sabtu, 31 Januari 2026, diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati isu geopolitik dan hubungan internasional.


Direktur Eksekutif GIF Teuku Rezasyah menegaskan bahwa negara dengan fragmentasi elite dan legitimasi politik yang lemah lebih mudah menjadi sasaran tekanan eksternal. 

“Kasus Venezuela menunjukkan bagaimana fragmentasi elite dan lemahnya legitimasi kepemimpinan membuka ruang intervensi yang luas,” ujarnya.

Namun, Rezasyah menilai Iran berada pada posisi berbeda karena memiliki kepemimpinan ideologis yang mengakar, militer mandiri, dan solidaritas regional yang kuat. 

Sementara itu, Greenland dinilai menjadi target strategis baru karena kekayaan sumber daya alam, termasuk rare earth, serta posisi geopolitiknya di kawasan Arktik.

Sementara itu, Peneliti Senior GIF Chandra Purnama menilai langkah AS terhadap Venezuela, Iran, dan Greenland bukan peristiwa terpisah. 

“Ini bukan semata ancaman perang langsung, melainkan sinyal taktis untuk menunjukkan dominasi dan menguji respons kekuatan lain,” ujarnya, seraya mengingatkan potensi pelemahan tatanan internasional dan prinsip kedaulatan negara.

Direktur GIF Muhammad Farid menyebut kebijakan Presiden AS Donald Trump dijalankan melalui pendekatan Madman Theory. 

“Trump sengaja membangun citra sebagai aktor yang tidak dapat diprediksi untuk menekan lawan dan meningkatkan daya tawar strategis Amerika Serikat,” ujarnya. 

Ia menyebut isu narkotika, imigrasi, hingga keamanan energi kerap dijadikan narasi pembenaran tekanan.

Sementara itu, Peneliti Senior GIF Faisal Nurdin Idris menilai kebijakan AS menunjukkan kembalinya Doktrin Monroe dalam bentuk baru. 

“AS memandang kawasan tertentu sebagai halaman belakang strategisnya, terutama ketika merasa terancam oleh dominasi Tiongkok,” ujarnya. 

Para narasumber sepakat Indonesia perlu memperkuat ketahanan nasional guna mencegah pengikisan kedaulatan secara bertahap.

Pakar GIF merekomendasikan agar Indonesia memperkuat ketahanan nasional, merumuskan dan mengomunikasikan strategi keamanan nasional secara jelas, serta meningkatkan solidaritas dengan ASEAN, G20, dan negara-negara Global South.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya