Berita

Kabinet Merah Putih. (Foto: Istimewa)

Publika

Menteri Sosmed

MINGGU, 01 FEBRUARI 2026 | 05:24 WIB

DI kabinet Prabowo Subianto, ada satu gejala yang semakin terasa tetapi jarang dibicarakan secara serius. Transformasi menteri dari pengelola kebijakan publik menjadi konten kreator.

Negara tidak lagi bekerja melalui instrumen kebijakan yang diukur, melainkan melalui kalimat-kalimat optimistis yang diulang-ulang, dipoles, dan disebarkan seperti konten promosi.

Kita menyaksikan menteri-menteri yang sibuk membangun citra, tetapi gagap ketika diminta menunjukkan indikator keberhasilan yang konkret.


Yang ditampilkan ke publik bukan dampak capaian, melainkan slogan. Yang dirayakan bukanlah perubahan, melainkan viralitas.

Masalahnya bukan pada komunikasi. Negara memang perlu menjelaskan kebijakannya. Permasalahannya muncul ketika komunikasi menggantikan substansi. 

Ketika kebijakan diukur bukan dari dampaknya terhadap kehidupan warga negara, melainkan dari seberapa sering ia dibela di ruang publik.

Negara lalu bergerak seperti akun resmi yang sibuk menjaga citra, bukan institusi yang fokus menyelesaikan masalah.

Dalam logika ini, kritik dianggap sebagai gangguan narasi. Kegagalan disebut "tantangan awal". Menteri mencari cara agar kritik tidak terdengar dan menggema.

Semua direduksi menjadi soal persepsi, bukan kinerja. Seolah-olah jika rakyat diyakinkan terus-menerus, kenyataan akan menyesuaikan diri.

Model menteri influencer ini berbahaya karena memutus hubungan antara kebijakan dan akuntabilitas. Influencer tidak bertanggung jawab atas akibat nyata dari apa yang ia promosikan, menteri sebaliknya.

Namun ketika gaya influencer merembes ke birokrasi, kegagalan tidak lagi diukur, melainkan dikelola secara komunikasi. Yang penting bukan apakah kebijakan berhasil, tetapi apakah narasinya masih bisa dipertahankan.

Di titik ini, negara tidak kekurangan program, tetapi kekurangan kejujuran evaluatif. Anggaran dikeluarkan, dampaknya tidak jelas. Target diumumkan, metode kabur. Publik diminta percaya, tanpa diberi alat untuk menilai.

Ironisnya, semakin besar skala kebijakan, semakin kecil ruang bagi publik untuk mengujinya. Semua dipusatkan pada narasi keberhasilan. Negara berubah menjadi panggung, menteri menjadi juru bicara utama, dan rakyat sekadar penonton.

Padahal, kebijakan publik bukan konten. Ia tidak hidup dari kesukaan, melainkan dari perubahan nyata. Mulai dari harga yang turun, layanan yang membaik, hingga risiko yang berkurang.

Ketika ukuran-ukuran itu menghilang dari percakapan, yang tersisa hanyalah optimisme kosong yang diproduksi berulang-ulang.

Kritik terhadap Menteri influencer bukan menuntut agar pejabat berhenti berbicara, melainkan agar mereka berhenti bersembunyi di balik konten dan kata-kata.

Negara tidak butuh lebih banyak slogan. Negara butuh menteri yang berani berkata ini berhasil, ini gagal, dan ini harus dihentikan.

Tanpa itu, kabinet akan terus terlihat sibuk, namun sulit dipastikan sedang bekerja untuk siapa, selain untuk menjaga citranya sendiri.

Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya