Berita

Kolase Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Ova Emilia dan mantan Presiden Joko Widodo. (Foto: RMOL)

Publika

Kekeliruan Rektor UGM soal Tanggal Lulus Jokowi Terungkap

JUMAT, 30 JANUARI 2026 | 06:01 WIB

BARU ngeh netizen, ternyata video monolog Rektor UGM Ova Emilia pertama dan kedua berbeda menyebutkan tahun kelulusan Joko Widodo alias Jokowi. 

Video pertama menyebutkan kelulusan Jokowi, 5 November 1985, sedangkan video kedua, 23 Oktober 1985. Padahal itu video monolog resmi UGM, mestinya jauh dari kesalahan sekecil apa pun.

Video monolog pertama Rektor UGM Ova Emilia dibuat sekitar bulan Agustus dan video monolog kedua sekitar bulan November. 


Sebelumnya, saya malah meminta video monolog ketiga terkait perkembangan terbaru munculnya ijazah Bambang Budy Harto di persidangan Citizen Lawsuit. Tahun sama, Fakultas sama, tapi bentuknya berbeda.

Jangan-jangan kalau dibuat video monolog ketiga Rektor UGM Ova Emilia, beda lagi tahun kelulusan Jokowi. Atau ada lagi yang berbeda. 

Video pertama dibantah oleh video kedua. Maka sudah benar, kalau Rektor UGM tak perlu lagi membuat video ketiga. 

Netizen +62 ini memang jeli luar biasa. Baru ngeh saat ini. Padahal sudah lama dan dikira AI. Ternyata asli.

Benar juga kata sebuah ungkapan yang belakangan ini populer: kejujuran itu sederhana, sementara kebohongan itu rumit. 

Sederhana, karena kejujuran tak membutuhkan alasan apa-apa. Rumit karena kebohongan membutuhkan alibi, rekayasa, dan satu kebohongan harus ditutupi lagi dengan kebohongan berikutnya. 

Tidak saja rumit, tapi juga capek.

Pada ijazah atas nama Joko Widodo yang beredar luas, yang awalnya diposting oleh Dian Sandi, kader PSI, tanggalnya tertulis 5 November 1985. 

Berarti, yang sesuai adalah video monolog pertama, bukan kedua. Bagaimana pula video kedua justru lebih salah daripada video pertama? Berarti, video ketiga, kalau mau dibuat, bisa lebih salah lagi. Benar-benar rumit.

Agaknya kebenaran belum akan terungkap dalam waktu dekat ini dan bisa jadi tak akan terungkap selamanya.
Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya