Berita

Pengamat Internasional dan Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana (Foto: Dokumen pribadi)

Politik

Indonesia dan Board of Peace: Di Antara Tekanan Global dan Risiko Politik Domestik

KAMIS, 29 JANUARI 2026 | 16:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pengamat Internasional dan Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana, menilai keikutsertaan Indonesia dalam deklarasi perdamaian Board of Peace (BOP) bukanlah pilihan yang sepenuhnya bebas. 

Menurutnya, Indonesia berada dalam posisi tertekan secara geopolitik. 

“Indonesia tidak punya pilihan selain bergabung,” ujarnya, saat dihubungi RMOL, dikutip Kamis 29 Januari 2026. Ia merujuk pada ancaman kenaikan tarif dagang bagi negara yang menolak. Preseden sudah ada, ketika Presiden Prancis menyatakan penolakan dan kemudian dihadapkan pada ancaman tarif hingga 200 persen oleh Presiden AS Donald Trump.


Masalahnya, tekanan itu disertai beban finansial yang sangat besar. Negara yang diundang disebut harus membayar 1 miliar Dolar AS jika tidak ingin keanggotaannya dibatasi hanya tiga tahun. 

Hikmahanto menegaskan, jumlah tersebut sangat besar, terlebih jika Indonesia tidak memiliki suara signifikan dan tidak berdampak pada penghentian kekerasan oleh Israel maupun kemerdekaan Palestina.

"Artinya, biaya tinggi belum tentu sebanding dengan pengaruh politik yang diperoleh," ujarnya.

Dari sisi kelembagaan, BOP juga dinilai bermasalah. Statuta atau piagam pendiriannya tidak mencerminkan praktik lazim organisasi internasional. Yang paling krusial, 

“Trump adalah pemilik suara tunggal dalam pengambilan keputusan,” ujar Hikmahanto. Kondisi yang membuat prinsip kolektif dan multilateral nyaris tak bermakna. Lebih jauh, susunan pengurus harian, termasuk untuk urusan Gaza, sepenuhnya ditunjuk oleh Trump dan “kebanyakan sangat pro-Israel.” 

Dalam situasi ini, Indonesia harus membayar mahal tanpa peluang menempatkan wakilnya sendiri.

Risiko terakhir justru datang dari dalam negeri. Hikmahanto mengingatkan, jika Dewan Perdamaian ini pada akhirnya condong ke Israel dalam kebijakan-kebijakannya, Presiden Prabowo bisa menghadapi persoalan serius dengan rakyatnya sendiri. 

“Ini akan berakibat tidak baik bagi approval rating Presiden,” tegasnya. Dengan kata lain, keputusan di panggung global bisa berbuntut panjang pada legitimasi politik di dalam negeri.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya