Berita

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam. (Foto: Istimewa)

Politik

Penataan Kepemimpinan Penting agar NU Tetap Berwibawa

KAMIS, 29 JANUARI 2026 | 12:43 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, mengeluarkan kertas posisi tentang penataan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU). 

Dokumen tersebut ditegaskan bukan untuk mengoreksi masa lalu atau menghakimi siapa pun, melainkan sebagai ikhtiar menjaga marwah ulama dan merawat NU agar tetap kokoh, teduh, serta bermartabat di tengah perubahan zaman.

“Kertas posisi ini saya buat dari ikhtiar menjaga marwah ulama dan merawat NU agar tetap kokoh, teduh, dan bermartabat,” ujar Gus Salam, Kamis, 29 Januari 2026.


Menurut Wakil Ketua PWNU Jawa Timur periode 2018–2023 itu, sejak awal kelahirannya NU tidak dimaksudkan sebagai organisasi administratif semata. NU lahir sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, perhimpunan keagamaan dan kemasyarakatan yang bertumpu pada kepemimpinan ulama, baik dalam dimensi keilmuan, moral, maupun sosial kebangsaan.

“Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak dibangun di atas kekuasaan, tetapi di atas ilmu, adab, keteladanan, dan keberkahan. Ulama bukan sekadar pengurus, melainkan penjaga nilai dan penuntun umat,” tegasnya.

Namun, seiring perjalanan waktu, Gus Salam menilai NU berkembang menjadi organisasi yang sangat besar dan kompleks, sekaligus berhadapan langsung dengan dinamika sosial, politik, dan kebangsaan yang semakin rumit. Dalam situasi seperti ini, ketulusan saja dinilai tidak cukup.

Dalam kertas posisinya, Gus Salam menekankan pentingnya penataan kepemimpinan NU yang berpijak pada supremasi ulama. Ulama harus menjadi penentu arah organisasi, bukan sekadar pelengkap struktur. Ia juga menegaskan perlunya pemisahan yang tegas antara otoritas moral, kebijakan, dan pelaksana agar tidak terjadi tumpang tindih peran.

Selain itu, ia menegaskan bahwa musyawarah mufakat harus menjadi prinsip mutlak dalam pengambilan keputusan di NU, tanpa voting, dominasi, ataupun pemaksaan kehendak. Menurutnya, tradisi musyawarah mufakat merupakan warisan para ulama dan Wali Songo yang telah membentuk peradaban Islam Nusantara.

Gus Salam juga menekankan pentingnya kepemimpinan kolektif-kolegial, di mana tidak ada figur tunggal yang dominan. Seluruh keputusan harus lahir dari majelis, bukan dari kehendak individu. Penataan kepemimpinan NU, lanjutnya, juga harus steril dari kooptasi politik dan transaksi kekuasaan, termasuk politik uang dan proxy kepentingan.

“Yang dijaga adalah nilai, bukan bentuk lama. Yang diperbarui adalah sistem, bukan ruh NU,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan arsitektur kepemimpinan NU yang disusun secara sistemik, mulai dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA), Mustasyar, Majelis Syuriah, hingga Tanfidziyah. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, saling menguatkan, dan tidak saling tumpang tindih.

AHWA, menurut Gus Salam, bersifat ad hoc dan hanya bekerja dalam forum Muktamar untuk membentuk kepemimpinan awal NU. Setelah tugasnya selesai, AHWA otomatis bubar dan bertransformasi menjadi Mustasyar, yakni majelis hukama NU yang memegang otoritas moral tertinggi, bukan pelaksana kebijakan dan bukan pula lembaga politis.

Dari Mustasyar inilah kemudian dipilih Majelis Syuriah sebagai pemegang mandat kepemimpinan strategis NU. Majelis Syuriah berwenang menetapkan Ketua PBNU, mengesahkan kepengurusan, hingga memberhentikan Ketua PBNU jika melanggar amanat dan etika keulamaan. Sementara itu, Tanfidziyah berfungsi sebagai pelaksana kebijakan dan bertanggung jawab penuh kepada Majelis Syuriah.

Dalam desain tersebut, Muktamar tidak lagi ditempatkan sebagai arena kontestasi, melainkan forum legitimasi, permusyawaratan, dan pengesahan proses kepemimpinan.

“Penataan ini bukan untuk membesarkan lembaga tertentu, tetapi untuk menjaga martabat ulama. Bukan untuk memperumit organisasi, melainkan menyederhanakan kewenangan agar jelas dan bermartabat,” kata Gus Salam.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa NU harus tetap berdiri tegak bukan karena kekuasaan, melainkan karena kebijaksanaan.

“Inilah ikhtiar menjaga NU tetap tegak, bukan karena kekuasaan, melainkan karena kebijaksanaan,” pungkasnya.


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya