Berita

Pengamat Hukum dan Politik, Dr Pieter C Zulkifi. (Foto: dokumen pribadi)

Politik

Body Shaming Politik Cermin Kemiskinan Intelektual Elite

RABU, 28 JANUARI 2026 | 17:00 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Maraknya praktik body shaming dalam perdebatan politik dinilai mencerminkan kemiskinan intelektual elite dan partai politik. Demokrasi yang seharusnya menjadi arena adu gagasan justru merosot menjadi ajang saling mengejek fisik.

“Ejekan fisik memang terlihat lucu dan mudah viral, tapi sesungguhnya berbahaya bagi kualitas demokrasi dan kecerdasan publik,” ujar Pengamat Hukum dan Politik, Dr Pieter C Zulkifi, dalam keterangannya, Rabu, 28 Januari 2026.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI itu menyoroti ejekan terhadap kondisi fisik Presiden ke-7 RI Joko Widodo, cara berjalan Presiden RI Prabowo Subianto, hingga raut wajah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, praktik tersebut merupakan bentuk argumentum ad hominem, yakni menyerang pribadi alih-alih membedah kebijakan.


“Kulit, gestur, usia, bahkan ekspresi wajah diperlakukan seolah indikator kepemimpinan. Di titik ini, politik kehilangan martabatnya sebagai ruang rasional,” tegasnya.

Pieter menjelaskan, body shaming politik kerap dipakai karena mudah dicerna publik dan tidak membutuhkan literasi kebijakan. Namun justru di situlah letak bahayanya, karena publik digiring untuk menertawakan tubuh, bukan menguji gagasan dan program.

Ia juga menilai pembiaran negara serta lemahnya penegakan hukum turut memperparah budaya perendahan martabat manusia di ruang publik.

“Partai politik itu sekolah politik, bukan pabrik provokator. Tanpa kaderisasi yang menekankan etika debat dan kecakapan berpikir, partai hanya akan memperpanjang polusi verbal,” ujarnya.

Pieter menegaskan, body shaming politik bukanlah tanda keberanian, melainkan cermin kepanikan dan kemalasan berpikir.

“Demokrasi yang beradab hanya tumbuh di atas intelektualitas, bukan di atas ejekan,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya