Berita

Ilustrasi warga dievakusi imbas banjir di Jakarta. (Foto: Istimewa)

Publika

Kritik Walhi dan LBH Jakarta soal Banjir Keliru

SELASA, 27 JANUARI 2026 | 05:09 WIB

KRITIK Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta terhadap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung salah arah dan keliru. Sebab penanganan banjir Jakarta sudah benar, tepat, dan terarah.

Persoalan ini bermula dari penjelasan Pramono tentang banjir Jakarta pada Januari 2026. Ia menyampaikan bahwa curah hujan ekstrem yang mencapai sekitar 200-260 milimeter per hari menjadi faktor utama meluasnya genangan di berbagai wilayah Jakarta, meliputi Jakarta Barat, Timur, Selatan, Utara, dan Pusat.

Puncak curah hujan tertinggi tercatat pada 18 Januari, yakni 267 milimeter per hari. Menurutnya, angka tersebut merupakan curah hujan yang sangat tinggi dan jarang terjadi di Jakarta.


Penjelasan ini sejatinya tidak keliru. Jakarta berada di dataran rendah dan secara historis telah menghadapi persoalan banjir sejak era kolonial.

Secara umum, penyebab banjir Jakarta dikenal berasal dari tiga faktor utama, yaitu banjir kiriman dari wilayah hulu, fenomena rob di pesisir, serta curah hujan tinggi dan berkepanjangan. Penjelasan Pramono berada pada konteks faktor ketiga, yakni hujan ekstrem.

Di sisi lain, kritik Walhi dan LBH Jakarta menyoroti faktor tata ruang, alih fungsi lahan, menyempitnya ruang air, berkurangnya daerah resapan, serta lemahnya perlindungan sistem drainase. Kritik tersebut bahkan menyebut bahwa Jakarta telah kehilangan sekitar 90 persen daerah resapan akibat pembetonan dan pengaspalan.

Pernyataan di akun Instagram resmi @pulihkanjakarta pada 23 Januari 2026 berbunyi, “Bilang ke Pramono: Banjir Jakarta bukan cuma karena hujan, tapi kebobrokan tata ruang”. 

Namun, kritik tersebut keluar dari substansi penjelasan Pramono. Sebab Pramono tidak sedang menutup mata terhadap persoalan tata ruang, melainkan menjelaskan faktor penyebab banjir pada peristiwa Januari 2026 yang dipicu hujan ekstrem. Dengan curah hujan 200-267 mm per hari, sangat logis jika sistem drainase, pompa, dan saluran air tidak mampu bekerja optimal.

Menurut klasifikasi BMKG, hujan dibagi menjadi lima kategori: ringan, sedang, lebat, sangat lebat, dan ekstrem. Hujan ekstrem terjadi ketika curah hujan melebihi 150 mm per hari. Dalam kondisi ini, sistem drainase kota umumnya tidak lagi mampu menampung volume air.

Sebagai perbandingan, rata-rata curah hujan harian Jakarta dalam kondisi normal hanya sekitar 10-20 mm, bahkan rata-rata tahunan 1.800-2.200 mm berarti sekitar 6-7 mm per hari jika dirata-ratakan. Artinya, hujan 200 hingga 267 mm per hari setara lebih dari sepuluh kali lipat kondisi normal.

Dengan fakta tersebut, penjelasan Pramono bahwa hujan ekstrem menjadi pemicu utama genangan adalah benar secara ilmiah dan faktual. Ia tidak sedang melakukan pembenaran atas persoalan banjir, tetapi menjelaskan sebab langsung dari peristiwa yang terjadi.

Kritik berikutnya menyasar kebijakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dinilai menyalahi siklus alam dan berpotensi merusak lingkungan. Pandangan ini juga perlu diluruskan. 

OMC bukan bertujuan menghentikan hujan, melainkan mengalihkan awan hujan agar tidak turun di daratan Jakarta melalui proses penyemaian garam dari udara sehingga hujan jatuh di laut. Proses ini dilakukan dengan perhitungan matang oleh BMKG, BNPB, Pemprov DKI, dan unsur terkait lainnya.

OMC merupakan langkah mitigasi jangka pendek dan menengah untuk mengurangi intensitas hujan ekstrem selama periode kritis, yang pada Januari 2026 dijalankan hingga 27 Januari 2026. Kebijakan ini bersifat teknis dan situasional dalam konteks tanggap darurat, bukan solusi permanen.

Yang semestinya menjadi fokus penilaian publik adalah langkah antisipasi dan respons pemerintah terhadap dampak banjir. Dalam konteks ini, Pramono sudah tepat, cepat, dan terarah. 

Ia menerapkan kebijakan work from home dan pembelajaran jarak jauh guna mengurangi risiko keselamatan warga serta kepadatan lalu lintas di wilayah terdampak. Kebijakan ini selaras dengan prinsip keselamatan publik dalam kondisi darurat  cuaca ekstrem.

Selain itu, penanganan teknis dilakukan secara intensif melalui strategi terencana yang mencakup penggunaan lebih dari seribu pompa air yang diposisikan di titik-titik rawan banjir, serta pembersihan dan perawatan drainase. 

Langkah jangka menengah dan panjang juga diprioritaskan melalui normalisasi sungai seperti Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama guna memperlebar alur sungai serta mengurangi penyumbatan akibat sedimen dan bangunan liar.

Pramono juga turun langsung meninjau lokasi terdampak, seperti di Rawa Buaya, Cengkareng, serta memastikan distribusi bantuan logistik, pangan, dan kebutuhan dasar warga melalui koordinasi dengan PMI dan jajaran terkait. Pendekatan ini menunjukkan kepemimpinan yang responsif dan hadir di tengah masyarakat.

Dampak dari respons tersebut mulai terlihat dengan surutnya genangan di banyak wilayah dan kembalinya layanan publik, termasuk operasional TransJakarta, yang menunjukkan efektivitas penanganan darurat.

Secara keseluruhan, Langkah Pramono dalam menghadapi banjir Januari 2026 mencerminkan kombinasi respons cepat, kebijakan teknis terukur, serta strategi jangka menengah dan panjang yang selaras dengan prinsip manajemen bencana dan tata kelola perkotaan.

Sugiyanto
Ketua Koalisi Pemerhati Jakarta Baru (Katar)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya