Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Istimewa)

Publika

Pembentukan Dewan Perdamaian Trump Harus Dikritisi Dunia Islam

SELASA, 27 JANUARI 2026 | 04:00 WIB

RENCANA Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Gaza memang memilki dua wajah yang paradoksikal. Wajah yang indah karena minimal “intensitas” kekerasan pembantaian penjajah Zionis Israel berkurang (walau masih berlanjut. 

Wajah manis itu tentunya membangun harapan bahwa Gaza akan kembali dibangun dan menjadi livable city (kota yang bisa dihuni). 

Namun wajah buruk ternampakkan secara jelas dengan rencana Trump membentuk apa yang disebut Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dia sendiri pimpin. 


Pembentukan Dewan tersebut sangat tidak masuk akal karena tuan rumah yang sesungguhnya (bangsa Palestina) tidak dilibatkan. Mereka hanya menjadi objek bagi keinginan keluarga Trump dan kroni-kroninya di dunia Barat. 

Karenanya inisiatif pembentukan apa disebut Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dipimpin oleh  Donald Trump, untuk Gaza dinilai sangat  kontroversi, bahkan merendahkan bangsa Palestina dan dunia Islam. 

Karenanya dunia Islam harus mengkiritisi dan menolak bergabung jika tidak dilakukan perubahan dan perbaikan. Hal mendasar yang harus diperhatikan adalah adanya jaminan bagi hak-hak mendasar bangsa Palestina, khususnya Pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. 

Hak-hak mendasar bagi bangsa Palestina harus menjadi poin penting dan tanpa kompromi dalam Pembentukan Dewan Perdamaian itu. 

Sayangnya, jika kita lihat secara lebih dekat, akan kita dapatkan berbagai dimema dan masalah. Dimulai dari struktur Dewan Perdamaian tersebut yang memungkinkan bagi Donald Trump untuk memiliki kontrol besar bahkan menentukan atas keanggotaan, agenda, dan penegakan, yang semuanya mengarah kepada penguatan posisi Amerika dan Barat di masa depan Gaza.

Hal ini jelas harus dikritisi oleh negara-negara  Islam dan harus berani bersuara untuk melakukan perubahan dan perbaikan. 

Jika tidak, maka struktur yang ada akan  mengabaikan suara dan hak-hak dasar bangsa Palestina, yang merupakan masalah pokok dan mendasar dalam permasalahan ini. 

Selama hak-hak dasar bangsa Palestina direndahkan harusnya Dunia Islam berani menolak, bukan justeru bergabung.  

Hal lain yang masalah dari Dewan Perdamaian ini adalah rencana Donald Trump yang selama ini didengung-dengungkan untuk Gaza; yaitu  demiliterisasi dan merubah Gaza menjadi "Riviera Timur Tengah". 

Jelas rencana ini merupakan taktik pengusiran paksa penduduk Palestina sekaligus bentuk penginjak-nginjakan hak-hak dasar mereka. 

Kesimpulannya, inisiatif Dewan Perdamaian yang dipimpin oleh Donald Trump untuk Gaza bersifat kontroversial dan harus ditolak karena struktur Dewan Perdamaian itu memungkinkan bagi Donald Trump untuk memiliki kontrol penuh atas keanggotaan, agenda, dan seterusnya. Yang lebih parah lagi, rencana Trump untuk Gaza ini dapat menyebabkan pengusiran paksa penduduk Palestina. 

Dunia Islam dan masyarakat internasional harus mengkritisi rencana Trump tersebut karena jelas merupakan pelanggaran hukum internasional dan hak-hak asasi manusia. 

Diamnya dunia Islam dan dunia internasional merupakan “complicity” atau kolaborasi dalam kejahatan penjajahan dan kezholiman.

Khusus Indonesia, kebijakan luar negeri “bebas aktif” harus menjadi pijakan bagi pengambilan posisi yang terus berpihak kepada kebenaran dan keadilan, bukan kepada siapa yang kuat dan punya dana. 

Masanya Indonesia memainkan peranan globalnya sebagai negara besar, khususnya sebagai negara Muslim terbesar dunia, untuk meluruskan kembali arah Perjalanan dunia yang tidak baik-baik saja. Semoga!

Shamsi Ali
Diaspora Indonesia di Kota New York

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya