Berita

Bupati Pati, Sudewo yang juga anggota Komisi V DPR periode 2019-2024 resmi pakai rompi oranye tahanan KPK (Foto: Dokumen RMOL)

Hukum

KPK Telusuri Keterlibatan Seluruh Anggota Komisi V DPR dalam Kasus Suap DJKA

SENIN, 26 JANUARI 2026 | 08:34 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menelusuri keterlibatan seluruh anggota Komisi V DPR periode 2019–2024 dalam kasus dugaan suap proyek jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Pengusutan tersebut dilakukan setelah KPK menetapkan Bupati Pati, Sudewo, sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi V DPR periode 2019–2024.

“Ini masih akan terus kami telusuri. Dari Saudara SDW (Sudewo) ini, kami juga bisa masuk untuk melihat apakah ada peran-peran dari anggota dewan lainnya dalam proyek-proyek di DJKA,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kepada wartawan di Jakarta, Senin 26 Januari 2026. 


Budi menegaskan, KPK tidak hanya mendalami peran para pihak, tetapi juga akan menelusuri kemungkinan adanya aliran dana suap proyek tersebut kepada anggota Komisi V DPR lainnya.

“Apakah juga ada dugaan aliran-aliran uang kepada anggota dewan di Komisi V lainnya. Ini tentu masih akan terus kami telusuri dan dalami,” tegasnya.

Berdasarkan fakta persidangan dan putusan perkara dugaan suap proyek DJKA sebelumnya, terungkap sejumlah nama anggota Komisi V DPR periode 2019-2024 yang disebut terlibat dalam perkara tersebut.

Tercatat terdapat 19 anggota dan pimpinan Komisi V DPR yang diduga terlibat, baik meminta maupun menerima proyek jalur kereta api. Mereka adalah Lasarus (PDIP), Ridwan Bae (Golkar), Hamka Baco Kady (Golkar), Sudewo (Gerindra), Novita Wijayanti (Gerindra), Sumail Abdullah (Gerindra), Ali Mufthi (Golkar), Ishak Mekki (Demokrat), Lasmi Indaryani (Demokrat), Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz (PKB), Sofyan Ali (PKB), Mochamad Herviano Widyatama (PDIP), Sukur H. Nababan (PDIP), Sudjadi (PDIP), Sadarestuwati (PDIP), Sri Rahayu (PDIP), Sarce Bandaso Tandiasik (PDIP), Fadholi (NasDem), dan Sri Wahyuni (NasDem).

Untuk pengembangan perkara, kata Budi, KPK membuka peluang memeriksa para anggota DPR tersebut sesuai kebutuhan penyidikan.

“Pemanggilan saksi dalam rangkaian proses penyidikan tentu berdasarkan kebutuhan penyidik, didalami dari informasi atau bukti awal. Apakah fakta-fakta tersebut dapat menjadi bukti baru atau bukti tambahan untuk pengembangan penyidikan, nanti akan kami lihat perkembangannya,” ujar Budi.

Pada Selasa, 20 Januari 2026, KPK menetapkan Sudewo sebagai tersangka kasus dugaan pemerasan terkait jabatan perangkat desa setelah terjaring operasi tangkap tangan (OTT). Pada hari yang sama, KPK juga mengumumkan penetapan Sudewo sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api di lingkungan DJKA.

“Benar bahwa ini adalah pintu masuk. Untuk perkara DJKA, hari ini juga sudah kami naikkan ke tahap penyidikan,” kata Direktur Penyidikan KPK, Asep, kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa 20 Januari 2026. 

Dalam perkara DJKA, Sudewo telah diperiksa selama lima jam di Gedung Merah Putih KPK pada Senin, 22 September 2025. Ia sebelumnya juga diperiksa selama 6,5 jam pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Saat itu, penyidik mendalami proyek pembangunan jalur kereta api, khususnya di wilayah Jawa Tengah, termasuk proyek di kawasan Solo Balapan, serta menelusuri aliran dana dalam perkara tersebut.

Dalam proyek JGSS.6, Sudewo yang saat itu menjabat sebagai anggota Komisi V DPR periode 2019–2024 disebut menerima komitmen fee sebesar Rp720 juta. Bahkan, dalam persidangan, tim jaksa penuntut umum mengungkapkan bahwa KPK telah menyita uang sebesar Rp3 miliar dari Sudewo.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya