Berita

Dr. Yoshinori Ohsumi. (Foto: AI)

Publika

Rahasia Autofagi

MINGGU, 25 JANUARI 2026 | 23:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

TUBUH manusia sesungguhnya memiliki satu kebiasaan yang sangat bertolak belakang dengan manusia modern yaitu ia senang bersih. Ia tidak nyaman menumpuk barang rusak. Ia tidak betah menyimpan sisa-sisa lama.

Jika dibiarkan bekerja sebagaimana mestinya, tubuh justru rajin berbenah yakni membersihkan dirinya sendiri secara berkala, diam-diam, tanpa keluhan. Proses itu bernama autofagi.

Dalam bahasa Yunani, maknanya terdengar agak menyeramkan yakni memakan diri sendiri. Namun jangan buru-buru membayangkan tubuh sedang nekat. Yang dimakan bukan yang sehat, melainkan yang sudah aus.


Protein tua, organel bocor, sel yang tidak lagi efisien, semuanya dibongkar, dipilah, lalu didaur ulang menjadi energi baru. Autofagi adalah petugas kebersihan sel yang bekerja ketika manusia berhenti makan dan dunia mulai melambat.

Masalahnya, manusia modern hampir tidak pernah memberi malam untuk beristirahat bagi tubuhnya. Kita makan pagi, ngemil siang, kopi sore, kudapan malam, lalu tidur sambil sistem pencernaan masih lembur.

Akibatnya, tubuh tidak pernah mendapat kesempatan membersihkan diri. Autofagi tidak sempat turun ke lapangan. Sampah biologis menumpuk perlahan. Inflamasi naik pelan-pelan. Penuaan berjalan seperti kota tanpa dinas kebersihan dimana ia tampak hidup, tapi baunya tak bisa disembunyikan.

Dr. Yoshinori Ohsumi, peraih Hadiah Nobel 2016, menemukan mekanisme ini melalui eksperimen sederhana namun jenius. Ia membuat sel ragi kelaparan jadi bukan disiksa, hanya tidak diberi makan. Lalu ia memodifikasi gen tertentu agar proses pencernaan internal terganggu.

Beberapa jam kemudian, di bawah mikroskop, tampak kantong-kantong kecil menumpuk di dalam sel. Autofagosom. Di situlah dunia sains tersentak dimana sel ternyata memiliki sistem daur ulang yang rapi, terprogram, dan sangat menentukan umur panjang.

Autofagi bukan reaksi panik. Ia strategi bertahan hidup. Saat makanan berhenti masuk, tubuh tidak ketakutan. Ia justru berpikir lebih jernih. Ia mematikan mode pertumbuhan dan menyalakan mode perawatan.

Saat itu, energi yang tersedia di tubuh dialihkan dari membangun ke memperbaiki. Dari menambah ke membersihkan. Inilah fase ketika gen-gen ketahanan hidup aktif dan sel menjadi jauh lebih tahan terhadap stres serta kerusakan.

Ilmu kedokteran modern kemudian menemukan bahwa terganggunya autofagi berkaitan dengan hampir seluruh penyakit degeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, kanker, diabetes, hingga penyakit jantung.

Itu terjadi bukan karena autofagi adalah obat segalanya, tetapi karena tanpa pembersihan rutin, tubuh menua dalam kondisi kotor. Menariknya, autofagi tidak bisa dibeli. Dan tidak ada yang jual.

Tidak ada kapsulnya. Tidak ada suntikannya. Tidak ada diskon bundling-nya. Satu-satunya cara mengaktifkan autofagi hanya dengan tubuh diberi jeda dari kerja. Misalnya dengan berpuasa selama 14 hingga 16 jam, yang terbukti cukup untuk memulai proses ini, karena hati memerlukan waktu menghabiskan cadangan glikogen sebelum sel beralih ke mode pembersihan.

Penelitian terhadap puasa Ramadan memperlihatkan hal yang menarik. Puasa harian dalam waktu 17 hingga 19 jam selama hampir sebulan Ramadhan meningkatkan ekspresi gen-gen autofagi secara signifikan. Artinya, tubuh manusia memang dirancang untuk sesekali tidak makan bukan sebagai siksaan, melainkan sebagai perawatan.

Di sinilah kebijaksanaan lama bertemu ilmu baru. Puasa agama yang dilakukan sejak subuh hingga sore hari sejatinya sangat serasi dengan konsep puasa intermiten modern. Jika seseorang bersahur secukupnya sekitar pukul tiga atau setengah empat pagi, lalu berbuka sekitar pukul enam sore, tubuh menjalani jeda makan sekitar empat belas hingga lima belas jam.

Secara spiritual orang tersebut sedang beribadah, secara biologis ia sedang membersihkan sel. Yang satu menenangkan jiwa, yang lain merapikan tubuh. Sebuah harmoni sunyi dimana pahala mengalir ke langit, sementara manfaatnya turun diam-diam ke mitokondria.

Blue zones yang merupakan wilayah dengan penduduk berusia seratus tahun yang jumlahnya mencurigakan, memberi petunjuk serupa. Di Ikaria, Yunani, masyarakat menjalankan puasa religius hingga sekitar seratus lima puluh hari dalam setahun.

Puasa mereka tidak ekstrem, tidak fanatik. Tapi konsisten. Mereka tidak mengejar kenyang, mereka menghormati jeda kerja bagi tubuh. Dan tubuh mereka, rupanya, membalas dengan umur panjang yang tenang.

Autofagi juga aktif lewat gerak. Jalan kaki, bersepeda, latihan daya tahan, semuanya memberi sinyal bahwa energi harus digunakan dengan bijak. Sel lalu membersihkan dirinya agar lebih efisien. Dalam bahasa tubuh bahwa kalau ingin dipakai lama, mesin harus diservis.

Namun autofagi tidak menyukai kerakusan. Terlalu sering makan, terlalu banyak ngemil, terlalu berlebihan protein justru mematikannya. Jika kita makan terlalu sering, tubuh menjadi sibuk mengolah pasokan, tak sempat membersihkan gudang. Kita mengira sering makan tanda kemakmuran. Bagi sel, itu tanda kelelahan struktural.

Di titik inilah hubungan senyap antara autofagi dan telomer yang saya tulis sebelum ini menjadi terang (link). Telomer menjaga ujung DNA agar tidak rusak. Autofagi membersihkan isi sel agar tidak beracun. Jika telomer adalah pagar, autofagi adalah petugas kebersihan di dalam halaman. Pagar boleh kokoh, tapi bila halaman penuh sampah, rumah tetap tak layak huni.

Dan masih ada satu unsur lain yang tak kalah penting yakni ribosom. Setelah sel dibersihkan, tubuh harus membangun ulang. Tanpa pabrik protein yang sehat, hasil pembersihan hanya menyisakan kehampaan. Maka umur panjang bukan hasil satu sistem hebat, melainkan orkestrasi yang rapi.

Ironisnya, manusia modern takut lapar seolah ia bencana. Padahal sedikit lapar adalah bahasa tubuh yang berkata, “aku sedang memperbaiki diri.” Kita takut lemas, padahal tubuh justru sedang rapi-rapi.

Mungkin karena kita terlalu mencintai kenyang, sampai lupa bahwa jeda istirahat adalah bagian dari kesehatan.

Autofagi mengajarkan satu kebijaksanaan sunyi bahwa tidak semua yang masuk perlu ditambah. Sebagian justru harus dihentikan.

Dalam hidup, seperti dalam tubuh, yang membuat panjang bukanlah banyaknya asupan, melainkan kecakapan memberi ruang.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya