Berita

Pengamat hubungan internasional Sentral Politika, Muhammad Rizal Rumra. (Foto: Dok Pribadi)

Global

Iran Tak Bisa Diruntuhkan Lewat Tekanan Politik hingga Mobilisasi Massa

MINGGU, 25 JANUARI 2026 | 10:45 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Upaya meruntuhkan Republik Islam Iran lewat tekanan ekonomi dan juga mobilisasi massa yang terjadi baru-baru ini, diyakini tak akan berhasil dilakukan Barat.

Pengamat hubungan internasional Sentral Politika, Muhammad Rizal Rumra memandang, upaya Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk menggoyang pemerintahan Iran tidak bisa dibaca semata dari dimensi militer atau ekonomi.

Menurutnya, fondasi ideologis dan loyalitas politik yang mengakar kuat di dalam negeri, serta jaringan aliansi global yang kian solid telah dilakukan oleh Iran.


"Banyak pihak di Barat keliru membaca Iran hanya sebagai negara otoriter yang bisa runtuh lewat tekanan ekonomi atau mobilisasi massa. Padahal, Iran adalah negara ideologis dengan struktur loyalitas yang sangat dalam, dari masyarakat hingga elite kekuasaan," ujar Rizal kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Minggu, 25 Januari 2026.

Dia mencermati, Revolusi Islam Iran pada 1979 bukan sekadar peristiwa politik, melainkan transformasi identitas nasional Iran yang menjadikan deologi wilayat al-faqih dan narasi perlawanan terhadap hegemoni Barat, membentuk konsensus dasar negara yang terus direproduksi lintas generasi.

“Bagi Iran, konflik dengan AS dan Israel bukan isu kebijakan sesaat, tapi bagian dari identitas negara. Narasi anti-imperialisme dan perlawanan terhadap Zionisme telah menjadi bahasa politik sehari-hari negara,” urainya.

Persepsi tentang keruntuhan Iran akibat gelombang demonstrasi besar yang kembali terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dipandang Rizal sebagai analisis yang terlalu simplistik.

“Iran memang menghadapi ketidakpuasan ekonomi, inflasi, dan kesenjangan sosial. Tapi itu tidak otomatis berujung pada delegitimasi negara. Dalam sistem Iran, kritik terhadap pemerintah tidak selalu berarti penolakan terhadap negara atau revolusi,” tuturnya.

Adapun di tingkat global, Sarjana Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ini meyakini Iran tidak lagi terisolasi seperti dekade-dekade awal pasca-revolusi.

Rizal menyoroti menguatnya poros strategis Iran dengan Rusia dan Tiongkok sebagai faktor kunci kegagalan strategi tekanan AS yang sekarang ini tengah digencarkan.

“Iran hari ini berada dalam ekosistem geopolitik multipolar. Kerja sama dengan Rusia di bidang militer dan keamanan, serta dengan Tiongkok di sektor energi dan perdagangan, membuat sanksi Barat kehilangan daya hancurnya,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menilai kemitraan jangka panjang Iran–Tiongkok dan kedekatan Iran–Rusia dalam berbagai konflik regional, menunjukkan bahwa Teheran kini menjadi bagian penting dari blok anti-hegemoni global.

"Masalah utama AS dan Israel adalah kesalahan membaca karakter negara Iran. Mereka mengira Iran bisa diperlakukan seperti negara klien atau negara rapuh, padahal Iran adalah negara perlawanan dengan memori kolektif panjang terhadap intervensi asing,” kata Rizal.

"Selama fondasi ideologi dan loyalitas internal Iran tetap utuh, selama itu pula upaya menggulingkan Iran dari luar akan terus gagal," tambahnya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Dipanggil KPK

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:31

Bisnis Ritel MAP Tumbuh Dua Digit, Laba Bersih Capai Rp2,1 Triliun

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:30

Konser Ye Sumbang Perputaran Ekonomi Rp600 Miliar, UMKM Ikut Kecipratan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Cari Pemimpin Baru, Kadin Jaktim akan Gelar Mukota VII

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Ekosistem Baterai Makin Maju, Toyota Didorong Garap Full EV

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:16

KPK Panggil Sejumlah Tenaga Ahli dan Kepala Biro BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:01

Periksa Suhu

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:00

Dony Oskaria Kumpulkan Petinggi BUMN, Ada Apa?

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:51

Bank Mandiri Buka-bukaan Soal Kredit Rp40 Triliun ke Haji Isam, Beberkan Agunan Saham JARR-PGUN

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:41

Sempat Mangkir, KPK Bakal Panggil Ulang Suami Fadia Arafiq

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:26

Selengkapnya