Berita

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) menutup jalan Trans Sulawesi. (Foto: Dokumentasi IPMIL)

Nusantara

Mahasiswa Luwu Tutup Jalan Trans Sulawesi, Dipicu Isu Pemekaran

MINGGU, 25 JANUARI 2026 | 06:47 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Aksi penutupan jalan poros Trans Sulawesi kembali terjadi di Kecamatan Walenrang Utara. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) memblokade jalan dengan cara menebang dan melintang­kan pohon di badan jalan.

Pemblokiran dilakukan di dua titik, yakni di Desa Mamara dan Desa Buntu Awo, Kecamatan Walenrang Utara. Aksi ini telah berlangsung selama dua hari, sejak Jumat, 23 Januari 2026 hingga Sabtu, 24 Januari 2026. Praktis hal itu menyebabkan arus lalu lintas Trans Sulawesi lumpuh total.

Ketua Umum PB IPMIL, Abd. Hafid, menegaskan bahwa aksi penutupan Jalan Trans Sulawesi yang dilakukan bersama Aliansi Wija To Luwu merupakan akumulasi kekecewaan mendalam mahasiswa dan masyarakat terhadap sikap dan kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.


“Perjuangan ini bukan sekadar tentang pemekaran wilayah, tetapi tentang martabat, keadilan, dan masa depan rakyat Luwu Raya. Aksi penutupan jalan adalah ekspresi kekecewaan kolektif, bukan tindakan spontan,” kata Hafid dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026. 

Lanjut dia, selama belum ada respons dan sikap tegas dari pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, mahasiswa dan masyarakat Luwu Raya akan tetap berdiri bersama dan konsisten melakukan blokade sebagai bentuk tekanan politik yang sah dan konstitusional.

Menurut Hafid, kondisi itu menyatukan kesadaran kolektif masyarakat Luwu Raya – mulai dari pemuda, mahasiswa, hingga masyarakat akar rumput. Mereka kemudian melahirkan aksi besar pada 23 Januari 2026, yang dimaknai sebagai Momentum Hari Perlawanan Rakyat Luwu. 

Ia menilai ketimpangan struktural yang terus berlangsung, ditambah jauhnya jarak antara pemangku kebijakan dan realitas kehidupan masyarakat, telah melahirkan kebijakan yang tidak objektif serta pemerataan pembangunan yang jauh dari kata adil. 

“Di sisi lain, Luwu Raya terus diposisikan sebagai wilayah pinggiran, sementara potensi sumber daya alamnya dieksploitasi tanpa diimbangi dengan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Hafid menjelaskan, pemekaran Luwu Tengah sebagai Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) merupakan sebuah keniscayaan, terutama bagi wilayah Walmas yang secara geografis telah terpisah dari kabupaten induk. 

“Kondisi tersebut selama ini menyulitkan masyarakat dalam pengurusan administrasi, pelayanan publik, hingga akses pemerintahan akibat jarak tempuh yang sangat jauh, yang menurutnya merupakan bentuk ketidakadilan struktural yang tidak boleh terus dibiarkan,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

MTI: Saatnya Pilih Pemimpin karena Kualitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:29

Korupsi Kredit Perbankan Rp629,8 Miliar Proyek Apartemen Bekasi Diusut

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:18

Ketika Hukum Konstitusi Berhadapan dengan Realitas Pertahanan Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:01

Kesaktian Nusron Terbukti Lagi, KPK Dibuat Tak Bergigi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:48

Masjid Apung An-Nur di Ancol jadi Landmark Baru di Pesisir Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:20

Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Istana Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:07

KPK Jangan Gertak Sambal: Segera Jemput Paksa Nusron!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:35

Melampaui Efisiensi, Menemukan Peluang Baru

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:20

5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:02

Investor Jangan Gampang Panik soal Ancaman MSCI

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya