Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Rupiah Terus Melemah Siapa Untung?

MINGGU, 25 JANUARI 2026 | 04:35 WIB

SELAMA ini masyarakat sering diberi kesan bahwa melemahnya rupiah adalah musibah nasional yang merugikan semua pihak. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Rupiah yang terus melemah memang menyulitkan masyarakat luas, tetapi pada saat yang sama justru menguntungkan kelompok-kelompok tertentu. Inilah sebabnya mengapa pelemahan rupiah sering dianggap “normal” dan terus berulang tanpa solusi mendasar.

Dalam sistem uang kertas (fiat), rupiah memikul dua fungsi sekaligus: sebagai alat transaksi dan sebagai alat penyimpan nilai. Masalahnya, rupiah secara desain tidak cocok untuk menyimpan nilai jangka panjang karena terus tergerus inflasi. Ketika masyarakat tetap dipaksa menyimpan kekayaan dalam rupiah, pelemahan nilai uang menjadi tak terhindarkan dan dampaknya meluas ke seluruh harga barang.

Jika emas digunakan langsung dalam jual beli, terutama untuk transaksi besar dan penyimpanan nilai, beban ini akan berkurang. Rupiah tidak lagi dipaksa menjadi satu-satunya alat simpan nilai. Orang menyimpan emas untuk menjaga nilai kekayaan, sementara rupiah dipakai seperlunya untuk transaksi harian. Dalam kondisi seperti ini, tekanan terhadap rupiah akan berkurang, bukan karena rupiah “menjadi sakti”, tetapi karena fungsinya kembali realistis.


Penggunaan emas dalam transaksi juga membuat harga menjadi lebih jujur. Dalam satuan emas, banyak harga sebenarnya relatif stabil. Yang terlihat naik selama ini adalah harga dalam rupiah, karena nilai rupiahnya yang turun. Ketika emas ikut digunakan, masyarakat bisa melihat dengan lebih jelas bahwa masalah utama bukan pada barang atau pedagang, melainkan pada pelemahan uang.

Selain itu, penggunaan emas secara langsung akan mengurangi euforia spekulasi. Emas tidak bisa dicetak, tidak bisa dipompa cepat, dan tidak cocok untuk permainan untung-untungan jangka pendek. Ketika emas dipakai sebagai alat tukar nyata, fokus ekonomi bergeser dari berburu selisih harga ke pertukaran barang dan jasa yang riil. Ini membuat sistem lebih stabil dan tenang.

Namun selama rupiah tetap menjadi pusat sistem, pelemahannya akan terus menciptakan pihak-pihak yang diuntungkan. Pemerintah, misalnya, diuntungkan secara jangka pendek karena nilai riil utang lama menyusut dan penerimaan pajak meningkat secara nominal. Perbankan dan sektor keuangan juga diuntungkan karena dana masyarakat yang tergerus inflasi tetap berputar dalam sistem berbunga.

Pelaku usaha besar yang memiliki aset riil seperti tanah, properti, dan komoditas ikut diuntungkan. Nilai aset mereka naik dalam rupiah, sementara biaya lama dibayar dengan uang yang semakin lemah. Eksportir juga mendapatkan keuntungan karena pendapatan mata uang asing yang ditukar ke rupiah menjadi lebih besar. Bahkan spekulan dan pedagang volatilitas justru membutuhkan rupiah yang tidak stabil untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga.

Sebaliknya, pihak yang paling dirugikan adalah masyarakat bergaji tetap, penabung kecil, penerima bantuan berbasis nominal, dan mustahik zakat. Mereka tidak memiliki alat lindung nilai, sementara biaya hidup terus naik perlahan tapi pasti. Kerugian ini tidak terasa sekaligus, tetapi menumpuk dari tahun ke tahun.

Di sinilah relevansi emas menjadi penting, termasuk dalam konteks zakat. Zakat menggunakan emas sebagai standar nilai agar keadilan tidak tergerus inflasi. Ketika emas dikeluarkan dari fungsi ekonomi nyata dan digantikan sepenuhnya oleh fiat, keadilan nilai ikut terganggu. Distribusi zakat menjadi bias karena diukur dengan angka yang nilainya terus berubah.

Kesimpulannya, rupiah yang terus melemah bukanlah kejadian netral. Ada pihak yang diuntungkan dan ada yang terus menanggung beban. Mengembalikan emas ke fungsi aslinya – baik sebagai penyimpan nilai maupun alat tukar terbatas – bukan berarti menolak rupiah, tetapi menempatkan rupiah pada peran yang masuk akal. Ketika beban rupiah dikurangi, tekanan inflasi mereda, spekulasi menurun, dan ekonomi bergerak lebih dekat ke nilai yang nyata, bukan sekadar angka.

Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya