Berita

Donald Trump saat singgung peran NATO di Afghanistan (Tangkapan layar siaran YouTube Fox News)

Dunia

NATO Marah Usai Diremehkan Trump Soal Perang Afghanistan

SABTU, 24 JANUARI 2026 | 07:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan dengan negara-negara sekutu NATO setelah meragukan komitmen mereka dalam membela AS.

Dalam wawancara dengan Fox News di Davos, Swiss, Trump mengklaim bahwa pasukan NATO “berada agak jauh” dari garis depan selama perang di Afghanistan. Pernyataan tersebut dinilai meremehkan pengorbanan negara-negara sekutu.

“Saya selalu bertanya, ‘Apakah mereka akan ada di sana jika kita membutuhkan mereka?’ Dan saya tidak yakin akan hal itu,” kata Trump, dikutip dari CNN, Sabtu, 24 Januari 2026.


“Mereka memang mengirim pasukan ke Afghanistan, tetapi mereka tetap berada sedikit di belakang, agak jauh dari garis depan,” ujarnya menambahkan.

Pernyataan ini langsung menuai kecaman karena bertentangan dengan fakta sejarah NATO. Setelah serangan teroris 11 September 2001, Amerika Serikat justru menjadi satu-satunya negara yang pernah mengaktifkan Pasal 5 NATO, yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi. Menanggapi hal tersebut, negara-negara NATO bertempur bersama AS di Afghanistan selama hampir 20 tahun.

Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat “tidak pernah benar-benar membutuhkan” NATO dan menilai kontribusi para sekutu sangat terbatas. Komentar ini muncul di tengah hubungan AS dan Eropa yang telah memanas, termasuk akibat ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland, wilayah semi-otonom Denmark yang juga merupakan anggota NATO.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengorbanan sekutu NATO tidaklah kecil. Sekitar 3.500 tentara sekutu tewas dalam perang Afghanistan, termasuk 2.456 tentara AS dan 457 tentara Inggris. 

Negara kecil seperti Denmark, dengan populasi sekitar lima juta jiwa saat invasi dimulai, kehilangan lebih dari 40 prajurit. Banyak pasukan Inggris dan Denmark bahkan ditempatkan di Provinsi Helmand, salah satu wilayah paling berbahaya dan dikenal sebagai basis Taliban.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam keras pernyataan Trump dan menyebutnya sebagai penghinaan yang mengerikan.

“Saya tidak heran jika komentar itu melukai perasaan keluarga mereka yang tewas atau terluka. Jika saya mengucapkan kata-kata seperti itu, saya pasti akan meminta maaf,” kata Starmer.

Namun, Gedung Putih menepis kritik tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menegaskan bahwa Trump tidak keliru.

“Presiden Trump sepenuhnya benar. Amerika Serikat telah berbuat lebih banyak untuk NATO dibandingkan seluruh negara anggota lainnya jika digabungkan,” ujarnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Wall Street Merah Sambut Keputusan The Fed

Kamis, 30 Juli 2026 | 08:21

Piutang Pajak Tidak Tertagih Tembus Rp47,4 Triliun di Akhir 2025

Kamis, 30 Juli 2026 | 08:02

Perpres Baru Bakal Jadi Landasan Utama Tata Kelola Distribusi LPG 3 Kg

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:45

AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Jaringan IRGC di Selat Hormuz

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:30

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,5-3,75 Persen

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:16

Bursa Eropa Melemah, Sektor Barang Mewah Seret Pergerakan Pasar

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:59

AMG Jadi Rujukan Pemakaman Muslim Modern Pertama di Indonesia

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:54

MUI Segera Bawa Naskah RUU Anti-LGSP ke DPR dan Pemerintah

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:28

Pembakar Rumah Hakim PN Medan Divonis 6 Tahun Penjara

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:13

Operator Jangan Bebankan Biaya Tambahan Pasca Putusan MK

Kamis, 30 Juli 2026 | 05:43

Selengkapnya