Berita

Karangan bunga ucapan selamat atas pencabutan HGU PT Sugar Group Companies. (Foto: RMOLLampung)

Nusantara

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

KAMIS, 22 JANUARI 2026 | 18:16 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kantor Gubernur Lampung mendadak semarak. Sejumlah karangan bunga berjajar rapi sebagai tanda syukuran rakyat atas dicabutnya sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) milik anak usaha PT Sugar Group Companies (SGC) seluas 85.244,925 hektare atau jika diuangkan mencapai Rp14,5 triliun.

Pencabutan HGU dilakukan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid. Langkah tersebut langsung disambut positif masyarakat sipil Lampung yang selama bertahun-tahun bersitegang dengan raksasa perkebunan tebu itu.

Karangan bunga bertuliskan, “Terima kasih kepada Bapak Presiden dan Kemen ATR/BPN atas dicabutnya seluruh HGU PT SGC Group/kebun tebu,” dikirim Triga Lampung, gabungan organisasi Pematank, Keramat, dan Akar Lampung.


Perwakilan Triga Lampung, Indra Musta’in, menyambut positif langkah Presiden Prabowo Subianto, Kementerian ATR/BPN, serta aparat penegak hukum yang terlibat. Namun, ia mengingatkan, pencabutan HGU bukan akhir cerita.

“Ini bukan garis finish. Justru baru start,” kata Indra yang juga Ketua Akar Lampung, dilansir RMOLLampung.

Menurutnya, pekerjaan rumah masih menumpuk. Salah satunya pengalihan lahan ke Kementerian Pertahanan melalui penerbitan Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Proses paling krusial adalah pengukuran ulang lahan bekas HGU SGC.

“Pengukuran ulang harus transparan dan akuntabel. Jangan main angka,” tegas Indra.

Ia menduga luas lahan yang selama ini dikuasai SGC jauh lebih besar dari HGU yang dicabut. Berdasarkan hitungan internal Triga Lampung dan temuan warga di lapangan, penguasaan lahan SGC diperkirakan bisa tembus 120 ribu hektare.

Selain soal luasan, Triga Lampung juga menyoroti rentetan konflik agraria antara SGC dan masyarakat yang sudah berlangsung bertahun-tahun di berbagai wilayah Lampung.

Pencabutan HGU, kata Indra, harus menjadi momentum negara untuk mengembalikan hak rakyat yang selama ini terpinggirkan akibat penguasaan lahan skala besar.

Jika nanti terbukti ada kelebihan lahan di luar HGU, Triga Lampung mendesak Pemprov Lampung dan BPN setempat menyiapkan skema pengelolaan dan redistribusi yang adil dan berpihak pada rakyat.

“Pertanyaannya sederhana tapi penting: kalau benar ada lahan di luar HGU, siapa yang menguasai selama ini? Dan di mana negara?” ujarnya.

Triga Lampung menegaskan penguasaan lahan di luar izin resmi adalah biang utama konflik agraria. Karena itu mereka memastikan akan terus mengawal proses pascapencabutan HGU agar tak melenceng dari konstitusi dan kepentingan publik.

SGC merupakan kelompok usaha agribisnis gula berskala besar yang beroperasi di Provinsi Lampung. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu produsen gula kristal putih terbesar di Indonesia dengan kegiatan usaha terintegrasi, mulai dari budidaya tebu, pengolahan, hingga distribusi gula.

Dalam operasionalnya, SGC mengelola perkebunan tebu dan pabrik gula melalui sejumlah anak usaha yang tersebar di Lampung, serta memasok kebutuhan gula nasional untuk pasar industri maupun konsumsi rumah tangga.

Pemilik SGC adalah Purwanti Lee (juga dikenal sebagai Nyonya Lee) dan Gunawan Yusuf yang merupakan saudara. Keduanya menguasai saham utama dalam kelompok usaha ini setelah mengakuisisi aset-aset SGC melalui lelang yang diselenggarakan oleh BPPN pada awal 2000-an, sesudah sebelumnya perusahaan sempat dimiliki oleh Salim Group.

SGC antara lain memproduksi gula merek Gulaku. Selain peran mereka di SGC, Gunawan Yusuf juga tercatat memiliki keterlibatan di sejumlah usaha lain seperti PT Makindo dan entitas yang berkaitan dengan Garuda Panca Artha.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Sidang 6 Agustus Bukan Kemenangan yang Dianulir

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:05

Jakarta Libatkan Kawasan Aglomerasi dalam Lestarikan Budaya Betawi

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:01

Pengurangan Timbulan Sampah Plastik Bisa Dimulai dari Pasar Tradisional

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:44

Timnas Garuda Bidik Tiga Poin dari Timor Leste

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:17

Hariman hingga Bursah Zarnubi Ramaikan Peluncuran Enam Buku Isti Nugroho

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:00

Wakapolri-Wamenhut Konsolidasi Hadapi El Nino dan Karhutla

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:23

Pembunuh Perempuan di Kamar Kos di Grogol Petamburan Dibekuk

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:13

Fahira Idris Sodorkan Tujuh Rekomendasi Bangun Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:02

Kawasan Transmigrasi Harus Punya Daya Tarik Investasi

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:39

Peluncuran Enam Buku

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:28

Selengkapnya