Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Pendidikan Bukan Persekolahan

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 03:48 WIB

UNTUK menjadi bangsa yang maju diperlukan paling tidak 5 syarat berikut: 1) pendidikan yang memerdekakan jiwa, 2) pasar yang terbuka dan adil, 3) investasi yang memandirikan, 4) pasokan energi dan makanan yang cukup, 5) birokrasi yang amanah, kompeten, dan bebas korupsi. Karena pendidikan adalah prasyarat budaya bagi bangsa yang merdeka, maka hal ini menjadi fondasi bagi pemenuhan 4 syarat lainnya. 

Sayang, pendidikan sejak Orde Baru hingga hari ini dirumuskan sebagai persekolahan yang bersifat massal dan memaksa. Tidak bersekolah hampir-hampir langsung dianggap kampungan dan tidak terdidik. Peran keluarga dan masyarakat perlahan-lahan dipinggirkan. Persekolahan dijadikan instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil untuk menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi kepentingan pemilik modal. 

No more no less. Persekolahan dibiarkan untuk memonopoli pendidikan sehingga pendidikan menjadi barang langka dan mahal. Bahkan beberapa sekolah-sekolah berubah menjadi eksklusif dan diposisikan sebagai tempat terbaik untuk menyombongkan diri. 


Sekolah telah membuat belajar sebagai sebuah kegiatan yang konsumtif dengan biaya yang makin tidak terjangkau. Belajar sejatinya adalah kegiatan yang produktif yang kesempatannya disediakan bersama oleh keluarga dan masyarakat. Pembangunan gagal jika dibangun di atas puing-pusing keluarga dan masyarakat. Tembok-tembok tebal dan tinggi sekolah cenderung mengasingkan warga muda dari keluarga dan masyarakat seolah hidup berkeluarga dan bermasyarakat itu tidak sepenting bersekolah. 

Pendidikan sebenarnya adalah fasilitas untuk memperluas kesempatan belajar, bukan sekedar kesempatan bersekolah. Apalagi di era digital saat ini. Membatasi tempat belajar hanya di sekolah berarti mempersempit kesempatan belajar. Sekolah seharusnya lebih bersifat melengkapi dan menambahi pendidikan di rumah, dan di masyarakat. Sekolah tidak akan bisa dan tidak boleh mengambil alih peran pendidikan keluarga dan masyarakat. Inilah prinsip 3 pilar pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Universal education for all can only be delivered by all. Sekolah tidak hanya membuat kesempatan belajar menjadi langka, tapi juga menjadi eksklusif. 

Pembangunan seharusnya dimaksudkan untuk memperluas kemerdekaan sebagaimana dinyatakan oleh nobelis ekonomi Amartya Sen. Dengan demikian pembangunan pendidikan harus dirumuskan sebagai upaya memperluas kesempatan belajar untuk merdeka. Pendidikan tidak boleh dikerdilkan menjadi persekolahan yg sering terobsesi dengan penyeragaman berbasis standar. 

Apalagi standar asing. Standar asing adalah bagian dari neo-cortex war oleh kekuatan-kekuatan nekolim. Akibat dari obsesi standar, apalagi standard asing, pendidikan kehilangan relevansi personal, temporal dan spasial. Potensi-potensi alamiah agro-maritim kita telah ditelantarkan secara terstruktur, sistemik, dan masif. Seiring dengan penelantaran itu, kita juga kehilangan wawasan ekologis yang merusak potensi-potensi agro-maritim yang melimpah itu. 

Belajar adalah sebuah emergent process yang tidak pernah mensyaratkan gedung megah, dan kurikulum yang ketat dan kaku, serta birokrasi sekolah yg rumit. Belajar paling tidak mencakup 4 kesempatan pokok: 1) mengalami atau praktek, 2) membaca, 3) berbicara, dan 4) menulis. Belajar adalah sebuah proses memaknai pengalaman. Pengalaman, terutama pengalaman 3-D, adalah papan lontar belajar. Bagi anak laki-laki, kelas adalah tempat terburuk untuk belajar. 

Sekolah sebagai lingkungan buatan seringkali terlalu tertib, aman dan nyaman; tidak memberikan tantangan dengan ketidakpastian dan risiko nyata. Inilah kurikulum yang terlaksana, bukan kurikulum yang ditulis rapi. Tidak mengherankan kini kita menghadapi krisis kepemimpinan karena kepemimpinan tidak bisa dibina dalam lingkungan yang teratur, aman, dan nyaman. 

Persekolahan seperti itu telah memperpanjang masa kanak-kanak warga muda kita. Mereka yang lulus SMA atau sederajat yang berusia 18 tahun belum siap untuk menjadi warga dewasa yang mandiri, sehat, dan produktif. Peningkatan jumlah calon mahasiswa adalah bukti kegagalan pendidikan dasar dan menengah. Ini memberi beban tambahan bagi kampus karena menghadapi mahasiswa baru yang belum dewasa. Peningkatan jumlah mahasiswa baru seperti ini jelas akan menurunkan kapasitas pendidikan dan riset kampus.

Persoalan pendidikan kita saat ini adalah too much schooling, not the lack of it. Yang kita perlukan saat ini adalah membangun jejaring belajar atau learning webs, di mana keluarga dan masyarakat diperkuat, dan diikutsertakan dalam memberi kesempatan belajar bagi warga muda. Sekolah dan kampus menjadi salah satu simpul belajar dalam jejaring belajar itu. 

Jejaring belajar itu tidak boleh terlalu terobsesi dengan penyeragaman berbasis standar, namun perlu luwes dan adaptif agar relevan secara personal, temporal, dan spasial. Potensi-potensi warga muda yang beragam, dan potensi-potensi agro-maritim negara kepulauan seluas Eropa ini tidak boleh lagi ditelantarkan. It takes a village to raise a child, and none shall be left behind.

Prof. Daniel Mohammad Rosyid 
Guru Besar Teknik Kelautan ITS, pemerhati maritim Indonesia


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Pemerintah Didesak Tetapkan Karhutla Sebagai Bencana Nasional

Rabu, 02 September 2026 | 12:22

Anggaran Kementerian LH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp2,57 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 12:16

Film Animasi Terlaris China All Wishes Come True Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Rabu, 02 September 2026 | 11:56

Mahasiswa Indonesia Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Vladivostok

Rabu, 02 September 2026 | 11:53

Kapolri Minta Seluruh Kapolda Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 11:49

Siaga 98 Minta RUU Perampasan Aset Fokus pada Perampasan Tanpa Pemidanaan

Rabu, 02 September 2026 | 11:38

Prabowo Tiba di Vladivostok, Penuhi Undangan Putin Hadiri EEF ke-11

Rabu, 02 September 2026 | 11:24

Komdigi Usul Tambahan Rp3,23 Triliun, DPR Ingatkan Ini

Rabu, 02 September 2026 | 11:19

Mending Persoalkan Kasus Judol Ketimbang Ribut Pernyataan Budi Arie

Rabu, 02 September 2026 | 11:17

AHY: Posisi Boleh Berubah, Komitmen Demokrasi Harus Terjaga!

Rabu, 02 September 2026 | 10:58

Selengkapnya