Berita

Fahri Hamzah. (Foto: tangkapan layar)

Politik

Fahri Hamzah: Elite Harus Terkonsolidasi Hadapi Ancaman Geopolitik Global

SABTU, 17 JANUARI 2026 | 19:22 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah menegaskan, demokrasi di dunia saat ini tak lagi otomatis sejalan dengan kesejahteraan rakyat. Gejolak geopolitik global dan menipisnya sumber daya alam membuat banyak negara memilih jalan brutal, yakni bertahan hidup dengan cara apa pun.

“Sekarang ini tren dunia survival pragmatis. Yang penting bisa hidup,” kata Fahri Hamzah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Seri ke-16, Jumat malam, 16 Januari 2026.

Menurut Fahri, keterbatasan sumber daya alam membuat persaingan global makin buas. Para pemimpin dunia tak lagi berbasa-basi soal moral dan demokrasi. Semua serba kepentingan.


“Kalau kita lihat hari ini, kita akan ingat pesan Presiden Prabowo. Yang kuat bisa berbuat apa saja, yang lemah harus menerima,” ujarnya.

Fahri mencontohkan bagaimana Amerika Serikat menyerang Venezuela demi menguasai minyak. Selama ini, minyak Venezuela berada di bawah pengaruh China dan Rusia.

“Amerika merasa terancam. Maka diputuskan mengambil alih Venezuela, bahkan menculik presidennya, Nicolas Maduro, yang dekat dengan China dan Rusia,” katanya.

Bukan hanya Venezuela. Demi sumber daya alam, Presiden AS Donald Trump juga disebut berencana mengambil alih Greenland, wilayah Denmark. Langkah itu memicu retakan serius di tubuh NATO dan sekutu-sekutu Amerika.

“Dunia yang diperingatkan Pak Prabowo itu sekarang mulai jadi kenyataan,” tegas Fahri.

Karena itu, Fahri mengingatkan Indonesia agar tak lengah. Seluruh komponen bangsa wajib mengonsolidasikan diri untuk menjaga kekayaan alam nasional.

“Indonesia pernah jadi korban keserakahan negara lain. Segala cara dihalalkan demi merampas sumber daya kita,” ujarnya.

Indonesia, lanjut Fahri, saat ini justru menjadi sasaran empuk. Kekayaan alamnya luar biasa, dari nikel terbesar di dunia?"bahan penting semikonduktor?"hingga batu bara, minyak, tambang, hutan, dan hasil laut.

“Kita ini negara superkaya mineral. Dalam hitungan geopolitik, Indonesia itu negara yang harus dikuasai,” katanya.

Ironisnya, di tengah ancaman global itu, para elite justru sibuk bertengkar. Fahri mengkritik elite nasional yang terus berkonflik dan menafsirkan konstitusi tanpa ujung.

“Pertengkaran elite ini melemahkan Indonesia. Bahkan membahayakan negara,” sentilnya.

Menurut Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI ini, indikasi negara lain ingin menguasai Indonesia terlihat dari banyaknya kesepakatan global yang diambil sepihak dan merugikan bangsa.

Karena itu, Fahri mendukung penuh langkah Presiden Prabowo Subianto memperbanyak pembentukan batalyon tempur di daerah sebagai langkah antisipasi ancaman asing.

“Pak Prabowo itu jenderal yang tidak suka perang. Tapi beliau bilang, jangan larang saya bersiap perang. Karena satu-satunya jalan menuju damai adalah kesiapan perang,” tegasnya.

Di sisi lain, Fahri menilai Prabowo juga serius membereskan masalah dalam negeri: mengurangi ketimpangan, menutup kebocoran sumber daya alam, dan memangkas belanja birokrasi.

“Dananya dipakai untuk makan bergizi gratis bagi anak-anak dan ibu hamil, sekolah gratis, dan program penyelamatan generasi,” katanya.

Targetnya jelas: Indonesia keluar dari jerat kemiskinan ekstrem dan terbebas dari ketegangan sosial.

“Di dunia yang sedang tidak baik-baik saja, negara harus terkonsolidasi agar kuat. Ini PR besar elite Indonesia,” tandas Fahri.

Ia menambahkan, Partai Gelora akan terus memelopori diskusi kesadaran geopolitik dan mendorong konsolidasi elite nasional.

“Kita harus menemukan jalan tengah agar kekacauan elite dan demokrasi seperti di Barat tidak terjadi di Indonesia. Kita punya fondasi kuat: Pancasila,” pungkasnya.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

Pendemo Atribut Serba Hitam Desak Teror Ketua BEM UGM Diusut

Jumat, 27 Februari 2026 | 20:14

BNI Siapkan Uang Tunai Rp23,97 Triliun Sambut Lebaran 2026

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:39

Polwan Berkalung Serban Putih Kawal Demo Mahasiswa

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:31

KPK: Mobil Operasional Pejabat Bea Cukai jadi Brankas Berjalan Uang Suap

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:18

Muncul Aksi Tandingan BEM UI di Mabes Polri

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:13

Jangan Hanya Kecam Israel, OKI Harus Berani Putuskan Sikap Kolektif

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:09

Angka Prima Palindromik

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:06

Seskab Bantah MBG Kurangi Anggaran Pendidikan

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:05

Pengaturan Ambang Batas Fraksi Lebih Tepat Ketimbang Naikkan PT

Jumat, 27 Februari 2026 | 18:42

Sentil Tim Ekonomi Prabowo, Pakar: Mereka bukan Negosiator

Jumat, 27 Februari 2026 | 18:23

Selengkapnya