Berita

Fotokopi ijazah S1 Kehutanan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Politik

Kejauhan Mengaitkan Isu Ijazah Jokowi dengan SBY–AHY

JUMAT, 16 JANUARI 2026 | 07:48 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Motif di balik langkah Pakar Telematika Roy Suryo yang kini berstatus tersangka dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terus menjadi perbincangan. 

Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan adanya kepentingan politik jangka panjang, termasuk dikaitkan dengan Pilpres 2029.

Pengamat Politik Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta menilai, jika dilihat dari sudut pandang Roy Suryo, misi utamanya memang berada pada upaya membongkar keaslian ijazah Jokowi yang diduga palsu.


“Ya saya pikir misi khususnya adalah membongkar keaslian ijazah Jokowi yang diduga palsu oleh Roy Suryo dkk,” ujar Nurul Fatta kepada RMOL, Jumat, 16 Januari 2026.

Menurutnya, perdebatan yang dibangun Roy Suryo sejatinya masih berada dalam wilayah keilmuan. Posisi Roy sebagai pakar telematika membuat polemik tersebut bermula dari kajian teknis, yang kemudian bersinggungan dengan politik ketika dikaitkan dengan hak-hak sipil masyarakat.

“Perdebatan Roy Suryo berada di wilayah keilmuan, sebagai pakar telematika yang kemudian baru ada kaitannya dengan politik jika dihubungkan dengan hak-hak politik civil society yang menuntut pejabat publik, presiden dulu, untuk menunjukkan ijazahnya sebagai bentuk transparansi pemerintahan yang bersih,” jelasnya.

Namun demikian, Nurul Fatta meyakini bahwa isu ijazah Jokowi tidak berdiri di ruang hampa. Ia melihat ada aktor-aktor politik tertentu yang berpotensi diuntungkan dari polemik tersebut.

“Di sisi yang lain, saya meyakini ada aktor-aktor politik yang diuntungkan dari isu ini,” tegasnya.

Ia memaparkan, pihak-pihak yang diuntungkan bisa berasal dari beragam spektrum, mulai dari kelompok informal hingga aktor politik nasional.

“Siapa yang diuntungkan? Bisa kelompok informal seperti buzzer, kelompok kepentingan, dan lain-lain. Bisa juga orang yang punya kepentingan politik nasional untuk menjatuhkan citra Jokowi, sebagaimana hal itu diakui sendiri oleh Jokowi,” paparnya.

Selain itu, isu tersebut juga dinilai berpotensi digunakan untuk mengganggu konsolidasi elite politik nasional yang mulai menguat sejak periode kedua pemerintahan Jokowi.

“Bisa juga ini hanya untuk mengganggu proses konsolidasi yang dilakukan elite-elite politik, misal sejak era kedua Jokowi elite-elite politik seperti Prabowo yang selama ini menjadi rival Jokowi justru melakukan rekonsiliasi dengan masuknya Prabowo ke kabinet Jokowi,” ujarnya.

Nurul Fatta menambahkan, sejak rekonsiliasi tersebut, isu ijazah Jokowi justru semakin masif dimainkan, terlebih setelah Prabowo dinilai berhasil melakukan konsolidasi politik yang luas.

“Sejak itu juga isu ijazah ini kian masif dimainkan. Apalagi sekarang Prabowo berhasil melakukan konsolidasi baik dengan mantan-mantan presiden, ataupun koalisi di parlemen,” kata Nurul Fatta.

Meski demikian, ia menilai terlalu dini jika isu ijazah Jokowi dikaitkan langsung dengan kontestasi Pilpres 2029 atau diarahkan untuk mengangkat figur tertentu.

“Kalau kemudian dikait-kaitkan dengan 2029 terlalu dini. Apalagi dikait-kaitkan dengan AHY atau SBY. Terlalu jauh,” pungkasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya