Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan niatnya untuk melibatkan miliarder teknologi Elon Musk dalam upaya memulihkan akses internet di Iran. Langkah ini diambil setelah pemerintah Iran memberlakukan pemadaman koneksi total selama empat hari berturut-turut guna meredam gelombang protes anti-pemerintah yang semakin masif.
Dalam pernyataannya kepada awak media di Washington pada Selasa, 13 Januari 2026, Trump memuji keahlian Musk dan teknologi satelitnya sebagai solusi paling efektif untuk menembus sensor ketat Teheran.
Trump secara spesifik merujuk pada Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX yang sebelumnya pernah dikerahkan secara terbatas di wilayah tersebut.
“Dia sangat ahli dalam hal seperti itu, dan dia punya perusahaan yang sangat bagus,” ujar Trump menanggapi pertanyaan mengenai keterlibatan SpaceX, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Situasi di Iran saat ini dilaporkan mencapai titik didih. Pemadaman internet yang dimulai sejak Kamis pekan lalu merupakan upaya sistematis pemerintah untuk memutus arus informasi dan koordinasi massa. Protes yang sedang berlangsung disebut-sebut sebagai tantangan terbesar bagi rezim ulama Iran sejak tahun 2022.
Aksi massa yang awalnya dipicu oleh kemarahan warga atas lonjakan harga kebutuhan hidup (inflasi ekstrem) kini telah bertransformasi menjadi gerakan politik yang menuntut reformasi menyeluruh terhadap kekuasaan yang telah berdiri sejak Revolusi Islam 1979.
Meski Trump menunjukkan kepercayaan besar pada Musk dalam urusan Iran, hubungan keduanya tetap diwarnai dinamika yang kompleks. Walaupun Musk berperan signifikan dalam mendukung pendanaan kampanye Trump pada periode sebelumnya, keduanya sempat terlibat perselisihan publik terkait kebijakan pajak dan regulasi perdagangan yang menjadi agenda utama Trump.
Namun, dalam isu keamanan nasional dan pengaruh global, Trump tampaknya siap mengesampingkan perbedaan personal demi memanfaatkan keunggulan teknologi SpaceX. Hingga berita ini diturunkan, pihak Elon Musk maupun SpaceX belum memberikan tanggapan resmi terkait instruksi atau pembicaraan lebih lanjut mengenai pengaktifan Starlink di wilayah udara Iran.
Memasuki pertengahan Januari 2026, tekanan internasional terhadap Iran terus meningkat.
Laporan dari organisasi pemantau internet global menunjukkan bahwa tingkat konektivitas di kota-kota besar seperti Teheran dan Mashhad berada di bawah 5 persen.
Penggunaan Starlink dianggap sebagai satu-satunya "jalur penyelamat" (life-line) bagi para aktivis dan jurnalis di lapangan untuk mengirimkan bukti visual mengenai penanganan protes oleh aparat keamanan ke dunia luar.