Berita

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Bisnis

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

SELASA, 13 JANUARI 2026 | 09:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Hubungan antara Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, dan Presiden Donald Trump kini mencapai titik didih. Powell secara terbuka menuduh pemerintahan Trump menggunakan penyelidikan kriminal sebagai alat intimidasi untuk menekan kebijakan suku bunga bank sentral. 

Ketegangan ini memuncak setelah Departemen Kehakiman (DOJ) AS, di bawah Jaksa Agung Jeanine Pirro, membuka penyelidikan terhadap Powell atas dugaan memberikan keterangan palsu kepada Kongres terkait proyek renovasi gedung The Fed senilai 2,5 miliar Dolar AS.

Melalui sebuah video di platform X, Powell menegaskan bahwa penyelidikan tersebut hanyalah "dalih". Menurutnya, serangan ini bukan soal renovasi gedung, melainkan upaya melemahkan independensi moneter. 


Powell menegaskan bahwa kebijakan suku bunga harus diambil berdasarkan data ekonomi, bukan atas tekanan politik. Selama ini, Trump memang vokal mengkritik Powell karena dianggap lambat dalam menurunkan suku bunga, yang menurut Trump menghambat pertumbuhan ekonomi AS.

Di sisi lain, Trump membantah keterlibatan langsung dalam proses hukum tersebut. Meski mengaku tidak tahu-menahu soal penyelidikan DOJ, ia tetap melontarkan kritik tajam dengan menyebut kinerja Powell "tidak terlalu bagus" dalam mengelola ekonomi maupun proyek bangunan. 

Ancaman Trump untuk mengganti Powell pun terus membayangi, meskipun Powell, yang menjabat sejak 2018, berkomitmen untuk tetap bekerja tanpa rasa takut atau keberpihakan politik.

Menariknya, gejolak politik ini tidak membuat Wall Street panik. Meski sempat dibuka melemah, pasar saham AS justru ditutup menguat. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq tetap berada di zona hijau, didorong oleh performa kuat saham teknologi dan lonjakan saham Walmart.

Para investor tampaknya cenderung mengabaikan drama hukum tersebut. Analis pasar menilai bahwa ancaman terhadap Powell sudah diprediksi sebelumnya oleh pelaku pasar, sehingga tidak memicu aksi jual masif. Saat ini, fokus investor telah beralih pada rilis data inflasi (CPI) mendatang, yang akan menjadi kompas bagi arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah tekanan politik yang kian memanas.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Penunjukan Nanik S. Deyang Kepala MBG Sesuai Hasil Evaluasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:13

Turun Gunung Jokowi Dalam Rangka Cari Keselamatan

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:05

Gibran Ingin Birokrasi Berjalan Gesit dan Kolaboratif

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:01

Prabowo Apresiasi Peran Turki Bantu Pulangkan Sembilan WNI dari Tahanan Israel

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:56

Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Hanya Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:52

Warganet Anggap Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung Drama Telenovela

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:45

Gebrakan Jampidsus Obrak-abrik Kantor BGN Patut Diacungi Jempol

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:42

Kunjungan ke Rusia, AHY Bawa Pulang Proyek PLTN Terapung hingga Kapal Cepat

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:41

DPR Dukung Kejagung Geledah BGN Usut Dugaan Korupsi MBG

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:07

Istana Respons Kabar Penangkapan Eks Kepala BGN oleh Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:06

Selengkapnya