Berita

Protes di Iran (Tangkapan layar RMOL dari siaran The Guardian)

Dunia

Aktivis: Korban Meninggal Protes Iran Tembus 538 Jiwa

SENIN, 12 JANUARI 2026 | 07:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gelombang protes nasional yang telah berlangsung selama dua pekan di Iran terus memakan korban jiwa. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah kematian telah mencapai angka yang mengkhawatirkan di tengah tindakan tegas dari aparat keamanan.

Dikutip dari Associated Press, Senin 12 Januari 2026, Human Rights Activists News Agency dalam laporannya yang dirilis Minggu menyebutkan sedikitnya 538 orang meninggal dunia dan lebih dari 10.600 orang telah ditangkap sejak demonstrasi pecah. Dari total korban tewas, 490 orang adalah demonstran, sementara 48 lainnya anggota pasukan keamanan. 

Situasi di lapangan sulit diverifikasi karena akses internet dan jaringan telepon di Iran diputus, sehingga banyak media internasional belum dapat mengonfirmasi jumlah korban secara independen.


Di tengah eskalasi ini, Iran melontarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ketua Parlemen Iran yang dikenal garis keras, Mohammad Baagher Qalibaf, menyatakan bahwa serangan apa pun terhadap Iran akan dibalas.

“Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan dan seluruh pusat militer, pangkalan, serta kapal Amerika di kawasan akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf dalam pidato di parlemen. 
Ancaman itu disambut teriakan “Matilah Amerika!” dari sejumlah anggota parlemen Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungan kepada para demonstran Iran. Dalam unggahan media sosialnya, Trump menulis bahwa rakyat Iran sedang mengejar kebebasan dan AS siap membantu. 

Pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa berbagai opsi respons tengah dipertimbangkan, mulai dari serangan siber hingga aksi militer langsung, meski belum ada keputusan final.

Di dalam negeri Iran, protes terus berlanjut di sejumlah kota, termasuk Teheran dan Mashhad. Video yang beredar - diduga dikirim menggunakan jaringan satelit - menunjukkan massa berkumpul, menghadapi aparat keamanan, serta kehadiran drone pengawas di atas lokasi unjuk rasa.

Pemerintah Iran meningkatkan retorika keras. Pejabat keamanan senior Ali Larijani menuduh sebagian demonstran bertindak brutal dan menyamakan mereka dengan kelompok ISIS. Televisi pemerintah menayangkan pemakaman anggota pasukan keamanan yang tewas, serta gambar jenazah di beberapa provinsi.

Bahkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya bernada lebih moderat, kini mengambil sikap lebih tegas. Ia mengakui adanya keluhan rakyat, namun menolak aksi yang dianggap merusak stabilitas negara.

“Kami harus mendengar keluhan rakyat, tetapi tugas yang lebih besar adalah mencegah sekelompok perusuh menghancurkan seluruh masyarakat,” ujar Pezeshkian.

Demonstrasi ini bermula pada 28 Desember, dipicu runtuhnya nilai mata uang rial Iran yang kini diperdagangkan lebih dari 1,4 juta rial per dolar AS, di tengah tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional dan isu program nuklir. Seiring waktu, tuntutan ekonomi berkembang menjadi seruan langsung menantang sistem teokrasi Iran.

Ketegangan regional pun meningkat. Israel menyatakan terus memantau situasi, sementara Paus Leo XIV di Vatikan menyerukan dialog dan perdamaian, menyebut Iran sebagai wilayah yang terus dilanda konflik dan korban jiwa.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya