Berita

Mobil IPA Water Treatment Plant (WTP) berteknologi Reverse Osmosis (RO) milik PAM Jaya. (Foto: PPID DKI Jakarta)

Publika

Air Datang Bersama Harapan

Aksi Kemanusiaan PAM Jaya untuk Korban Bencana Alam di Sumatera
SABTU, 10 JANUARI 2026 | 05:07 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

DI tengah hujan yang tak kunjung reda, di tanah Aceh yang masih berbalut duka, air bersih mengalir bukan sekadar sebagai kebutuhan hidup, tetapi sebagai tanda bahwa mereka tidak sendirian. 

Dari sungai yang sama tempat alam menunjukkan kerasnya wajah bencana, lahir air minum yang menjadi simbol harapan baru melalui kerja senyap tim PAM Jaya.

Pengoperasian IPA Mobile di lokasi terdampak bukan hanya soal teknologi yang mampu mengolah air sungai menjadi layak minum. 


Ia adalah pernyataan moral bahwa kemanusiaan harus hadir paling depan ketika luka masih basah. Di saat banyak kata terasa hampa, seteguk air bersih menjadi bahasa empati yang paling jujur.

Pendistribusian air bersih, bantuan langsung ke penampungan warga, hingga perhatian kecil seperti membagikan payung di tengah hujan yang masih mengguyur, menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu datang dalam bentuk besar dan megah. 

Kadang ia hadir sederhana, namun tepat sasaran. Payung mungkin terlihat sepele, tetapi bagi keluarga yang kehilangan rumah, bagi anak-anak yang kehilangan orang terkasih, ia adalah perlindungan kecil yang memberi rasa aman di tengah ketidakpastian.

Yang paling menggetarkan hati bukan hanya kerja keras di lapangan, melainkan senyum yang muncul dari wajah-wajah yang sedang berduka. 

Senyum itu lahir karena ada tangan yang mau turun, ada institusi yang tidak berjarak, dan ada kepedulian yang tidak berhenti pada laporan atau angka statistik.

Di sinilah kita diingatkan bahwa pelayanan publik sejatinya bukan hanya soal tugas dan kewenangan, tetapi tentang keberpihakan pada kemanusiaan. 

PAM Jaya melalui langkah-langkah nyatanya, menunjukkan bahwa air bukan sekadar komoditas, melainkan hak hidup dan penguat harapan.

Di tengah bencana, air bersih mengalir bersama doa, kerja, dan cinta sesama. Dan dari Aceh, kita belajar bahwa membantu bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menjaga martabat manusia agar tetap berdiri, meski hujan dan duka belum sepenuhnya pergi.

Direktur Jakarta Institute

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi Warga

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51

Megawati Minta Kader Gotong-Royong Bantu Sumatera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35

Muannas Peringatkan Pandji: Ibadah Salat Bukan Bahan Lelucon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28

Saksi Cabut dan Luruskan Keterangan Terkait Peran Tian Bahtiar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53

Rocky Gerung: Bagi Megawati Kemanusiaan Lebih Penting

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40

Presiden Jerman: Kebijakan Trump Merusak Tatanan Dunia

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53

Ostrakisme Demokrasi Athena Kuno: Kekuasaan Rakyat Tak Terbatas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31

Megawati Resmikan Pendirian Kantor Megawati Institute

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53

Khamenei Peringatkan Trump: Penguasa Arogan Akan Digulingkan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06

NST 2026 Perkuat Seleksi Nasional SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36

Selengkapnya