Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Prabowo Bilang Banyak Anak hanya Makan Nasi dan Daun, Benarkah?

KAMIS, 08 JANUARI 2026 | 15:29 WIB

SAYA orang yang susah percaya begitu saja. Followers saya juga begitu biasanya. Benarkah banyak anak Indonesia hanya makan nasi dan daun-daunan seperti dipidatokan Presiden Prabowo Subianto? Semiskin itukah negeri ini. 

Pernyataan Presiden Prabowo tentang banyak anak Indonesia yang hanya makan nasi dan daun-daunan itu jatuh ke publik seperti sendok sayur ke lantai dapur. 

Bunyinya keras, bikin kaget, dan langsung mengundang semua orang menoleh. Warkop mendadak berubah jadi forum ilmiah dadakan. 


Yang satu mengernyit, yang lain tertawa getir. Sebab kalimat itu terdengar lebih cocok jadi judul film kolosal tentang paceklik abad ke-19, bukan potret Indonesia 2026 yang katanya sedang menuju emas.

Secara data, Prabowo tidak bicara dari ruang hampa. Ia merujuk kajian yang menyebut sekitar 20-30 persen anak Indonesia mengalami masalah gizi, mulai dari kekurangan protein, gizi tidak seimbang, sampai stunting yang diam-diam menggerogoti masa depan. 

Angka ini nyata, serius, dan tak bisa dianggap angin lalu. Dari sinilah lahir program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjangkau puluhan juta anak sekolah dan ibu hamil, dengan anggaran ratusan triliun rupiah. 

Negara turun tangan, panci besar disiapkan, dapur umum dibayangkan mengepul dari Sabang sampai Merauke.

Namun di tengah data yang sahih itu, muncul satu frasa yang bikin publik tersedak, nasi dan daun-daunan. Di sinilah drama dimulai.

Semiskin-miskinnya orang kampung, logika dasar bertahan hidup berkata, tak lah sampai makan nasi dan daun saja. 

Alam Indonesia bukan alam pelit. Ia cerewet, rewel, tapi royal. Parit penuh ikan kecil, sawah sarat keong dan belalang, kebun menyimpan singkong dan pisang, sungai jadi lemari es protein gratis. 

Orang kampung boleh miskin uang, tapi tidak miskin cara. Kalau sampai menu harian tinggal nasi dan daun, itu bukan lagi kemiskinan, itu sirene darurat peradaban.

Kondisi seperti itu masuk akal hanya bila negeri sedang paceklik besar. Gagal panen massal, bencana berbulan-bulan, konflik, atau distribusi pangan lumpuh total. 

Masalahnya, Indonesia hari ini tidak sedang di fase itu. Beras ada, bahkan impor masih datang. Ikan surplus, sampai nelayan sering kalah harga. Telur melimpah, peternak menjerit karena harga jatuh. 

Jadi yang krisis bukan ketersediaan pangan, melainkan daya beli, distribusi, dan kualitas gizi.

Maka frasa “nasi dan daun-daunan” terdengar seperti jurus hiperbola tingkat dewa. Ampuh menggugah emosi, tapi berisiko kabur secara presisi. 

Yang terjadi di lapangan lebih sering begini, protein ada tapi dijual, ikan ada tapi masuk tengkulak, telur ada tapi dianggap makanan mewah. 

Bukan karena alam tak menyediakan, melainkan sistem membuat protein menjauh dari piring anak-anak.

Di titik ini, publik teringat kisah legendaris listrik Aceh. Bahlil melaporkan 94 persen sudah menyala du hadapan Prabowo. 

Di atas kertas, nyala. Di lapangan, lampu hidup segan mati tak mau, kadang hanya malam hari, kadang cuma satu rumah per desa. Angkanya benar, realitasnya bocor. 

Data tidak bohong, tapi cara menyajikannya bisa menipu presiden. Begitu pula soal pangan. Laporan naik ke atas sering sudah dipilih yang paling tragis, dipoles agar terlihat mendesak, supaya program besar punya alasan moral yang tak terbantahkan.

Bisa jadi Prabowo tidak sedang berbohong. Ia mungkin sedang terlalu percaya. Percaya pada oknum ABS. Percaya pada laporan yang sudah disaring, diringkas, dan dibumbui drama. 

Maka lahirlah kalimat epik yang membuat Indonesia seolah sedang kembali ke zaman paceklik. Padahal, masalah utamanya adalah ketimpangan gizi di tengah kelimpahan sumber pangan.

Ironisnya, programnya bisa benar, niatnya bisa mulia, tapi narasinya terlanjur kebablasan. Anak-anak tidak butuh kisah daun untuk dibela. 

Mereka butuh protein yang sampai ke piring, distribusi yang waras, dan kebijakan yang lahir dari data yang jujur, bukan cerita yang terlalu ingin mengguncang perasaan.

So, benarkah ada anak Indonesia yang hanya makan nasi dan daun? Mungkin ada, satu dua, di sudut negeri yang sangat khusus. 

Tapi kalau itu dijadikan potret umum, orang kampung akan tertawa pahit sambil berkata, “Selagi parit masih berair dan kebun masih berbuah, daun bukan menu utama.” 

Kecuali, tentu saja, kalau negeri ini memang sedang paceklik. Jika itu yang terjadi, persoalannya jauh lebih besar dari sekadar sepiring nasi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya