Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Harga CPO Malaysia Menguat Tipis Terkerek Kenaikan Minyak Nabati Global

RABU, 07 JANUARI 2026 | 14:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia terpantau bergerak positif pada perdagangan Rabu 7 Januari 2026. Kenaikan ini dipicu oleh apresiasi harga minyak kedelai di pasar Dalian dan Chicago, serta didukung oleh depresiasi mata uang Ringgit.

Pada sesi istirahat siang, kontrak referensi CPO untuk pengiriman Maret mencatatkan kenaikan sebesar 14 Rnggit atau 0,35 persen, sehingga berada di level 4.004 Ringgit (sekitar 988,64 Dolar AS) per metrik ton.

Dikutip dari Reuters, seorang pedagang di Kuala Lumpur mengungkapkan bahwa pasar dibuka menguat seiring dengan penyesuaian selisih harga terhadap komoditas minyak nabati lainnya. Meski begitu, pergerakan naik ini dibayangi oleh kelesuan di sektor energi dan minyak nabati lain yang dapat menghambat laju penguatan.


Beberapa faktor kunci yang memengaruhi dinamika harga CPO hari ini antara lain; 

Kenaikan Harga Rival: Kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Dalian melonjak 0,63 persen, sementara kontrak CPO di bursa yang sama naik 0,26 persen. Di Chicago Board of Trade, harga soyoil juga naik 0,43 persen. Hal ini penting karena CPO bersaing ketat memperebutkan pangsa pasar minyak nabati dunia.

Kurs Ringgit: Mata uang Malaysia ini melemah 0,15 persen terhadap Dolar AS. Pelemahan nilai tukar ini membuat harga sawit lebih kompetitif dan murah bagi importir yang bertransaksi dengan mata uang asing.

Sentimen Negatif Energi: Di sisi lain, harga minyak mentah global justru melandai. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi penyerahan 30 hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela ke AS. Melemahnya harga minyak bumi otomatis menurunkan daya tarik CPO sebagai bahan campuran biodiesel.

Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memproyeksikan arah harga CPO masih berada di zona netral. Saat ini, harga bergerak dalam rentang konsolidasi antara 3.975 hingga 4.024 Ringgit per metrik ton. Penentuan arah tren baru akan terlihat jika harga berhasil menembus salah satu batas dari kisaran tersebut.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya