Berita

Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB. (Foto: Dokumentasi PDIP)

Histoire

Geram dengan Nekolim, Indonesia Pernah Cabut dari PBB

RABU, 07 JANUARI 2026 | 06:46 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

PRESIDEN pertama RI Ir Soekarno atau Bung Karno terus mendengungkan perlawanan terhadap praktik neo-kolonialisme dan imperialisme (Nekolim). Dorongan itu kian masif ketika memasuki era demokrasi terpimpin pasca-Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Di era tersebut, energi Indonesia juga fokus pada pembangunan poros ketiga melalui Gerakan Non Blok serta perjuangan merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Usai Irian Barat kembali ke pangkuan NKRI pada 1 Mei 1963, Pemimpin Besar Revolusi lantas memfokuskan perhatiannya untuk Ganyang Malaysia dalam propaganda Dwikora.

Tak hanya Malaysia, sang penggali Pancasila itu juga membidik negara-negara penyokong Malaysia seperti Inggris dan Australia, dan tentunya ada Amerika Serikat (AS) di belakangnya lagi.


Kendati sempat mesra dengan Negeri Paman Sam di era Presiden John F Kennedy, namun tudingan sebagai dedengkot Nekolim terus dilancarkan Bung Karno kepada Washington. Bahkan termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bermarkas di New York, juga menjadi sasaran Putra Sang Fajar dalam berbagai sindiran dan agitasinya.

Puncaknya, pada 7 Januari 1965, Indonesia secara resmi menyatakan keluar dari keanggotaan PBB. Berdasarkan catatan sejarah yang beredar, keputusan tersebut dilatarbelakangi oleh ketegangan politik antara Indonesia dan Malaysia. Pemerintah Indonesia menentang keras terpilihnya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Bung Karno menilai pembentukan Federasi Malaysia sebagai praktik nekolim yang didukung negara-negara Barat.

Menurut pandangan pemerintah saat itu, PBB dianggap tidak bersikap netral dan cenderung memihak kepentingan negara-negara besar bahkan dicap sebagai sarang nekolim. Atas dasar tersebut, Indonesia memilih menarik diri dari PBB sebagai bentuk protes terhadap kebijakan organisasi internasional tersebut.
Pernyataan keluarnya Indonesia dari PBB diumumkan secara resmi kepada publik pada 7 Januari 1965. Indonesia ternyata menjadi negara satu-satunya yang pernah keluar dari organisasi yang berdiri pada 24 Oktober 1945 itu. 

Meski demikian, Indonesia tetap menjalin hubungan internasional melalui jalur lain dan bahkan menggagas pembentukan organisasi alternatif bernama Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) yang bertujuan menghimpun negara-negara berkembang. 

Kemudian CONEFO pun disebut-sebut sebagai tandingan PBB dalam mengurus permasalahan yang melanda dunia. Keputusan keluar dari PBB tidak berlangsung lama. Setelah terjadi perubahan situasi politik nasional, Indonesia akhirnya kembali bergabung dengan PBB pada 28 September 1966 tanpa harus melalui proses pendaftaran ulang.

Peristiwa 7 Januari menjadi catatan penting dalam sejarah diplomasi Indonesia, mencerminkan sikap tegas dan independen dalam menghadapi dinamika politik internasional pada masa awal kemerdekaan.

Catatan sejarah itu juga masih relevan dengan kondisi hari ini, di mana PBB dianggap tidak berkutik pada serentetan peristiwa penjajahan yang terjadi. Sebut saja invasi Israel ke Palestina yang terus menjadi sorotan dunia. Teranyar, peristiwa invasi AS ke Venezuela juga menuntut sikap PBB dalam memberikan sanksi kepada keangkuhan Paman Sam. Namun hingga kini urung dilaksanakan.


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

UPDATE

Brigjen Victor Alexander Lateka Dikukuhkan Sebagai Ketua Umum PABKI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:48

MBG Program Baik, Namun Pelaksanaannya Terlalu Dipaksakan

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:07

Suporter Indonesia Bisa Transaksi Pakai wondr by BNI di Thailand Open 2026

Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:46

Rupiah Jebol Rp17.600, Prabowo: di Desa Nggak Pakai Dolar

Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:06

Sjafrie Kumpulkan BIN hingga Panglima TNI, Fokus Kawal Mineral Strategis RI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 15:16

Saham Magnum Melonjak Usai Rumor Akuisisi Blackstone dan CD&R

Sabtu, 16 Mei 2026 | 15:02

Prabowo Curhat Kenyang Diejek TNI-Polri Urus Jagung: Itu Aparat Rakyat!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:35

Kemenhaj Perkuat Tata Kelola Dam, Jemaah Haji Diminta Gunakan Jalur Resmi Adahi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:18

Instants Fitur Baru Instagram, Ini Bedanya dengan Stories

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:13

Prabowo Minta Aparat Koreksi Diri: Jangan Jadi Beking Narkoba

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:03

Selengkapnya